SEMARANG, Jatengnews.id – Di tengah gempuran motor-motor baru dengan teknologi yang semakin canggih, sebuah Honda Supra keluaran 2012 atau yang akrab dipanggil “Supra Bapak” masih setia menemani perjalanan hidup Fitroh Nur Ikhsan (28), seorang perantau asal Cirebon yang kini bekerja di Kota Semarang.
Bagi banyak orang, kendaraan hanyalah alat transportasi. Namun bagi Fitroh, motor bebek berusia lebih dari satu dekade itu menyimpan cerita yang jauh lebih dalam. Motor tersebut menjadi saksi perjalanan hidupnya sejak masa sekolah, kuliah, hingga bekerja.
“Intinya motor itu separuh jiwaku,” kata Fitroh sambil tertawa saat diwawancarai JAtengnews.id, Sabtu (6/6/2026).
Motor Honda Supra itu dibeli baru oleh ayahnya sekitar tahun 2012. Saat itu Fitroh masih duduk di kelas akhir Madrasah Tsanawiyah (MTS), berusia sekitar 15 tahun. Sejak saat itu, motor tersebut menjadi kendaraan yang menemaninya hampir setiap hari.
Ketika lulus sekolah dan merantau ke Semarang untuk kuliah pada 2017, Honda Supra Bapak ikut dibawa. Hingga kini, hampir sembilan tahun setelah kedatangannya di Kota Atlas, motor yang sama masih digunakan untuk bekerja dan beraktivitas sehari-hari.
“Dari sekolah, SMK, kuliah di Semarang, sampai sekarang kerja tahun 2026 masih pakai Supra itu,” ujarnya.
Kesetiaan Fitroh terhadap motornya bukan hanya karena faktor emosional. Menurut dia, performa Honda Supra Bapak tersebut masih bisa diandalkan untuk berbagai kebutuhan mobilitas.
Ia menyebut konsumsi bahan bakarnya irit dan kondisi mesin tetap tangguh meski telah digunakan bertahun-tahun.
“Mesinnya bandel. Tarikannya juga masih kencang. Untuk perjalanan Semarang-Cirebon masih bisa diandalkan,” katanya.
Jarak antara Semarang dan Cirebon yang mencapai ratusan kilometer bukanlah hal asing bagi motornya. Fitroh kerap menggunakannya untuk pulang kampung maupun menjalankan aktivitas sehari-hari di Kota Semarang.
Perawatannya pun terbilang sederhana. Selain mengganti oli secara rutin setiap bulan, ia mengaku jarang melakukan perbaikan besar.
“Kalau dipakai di sekitar Semarang paling cuma ganti oli. Biasanya kerusakan muncul setelah perjalanan jauh, baru dibawa ke bengkel,” ujarnya.
Saksi Perjalanan Asmara
Namun alasan terbesar mengapa motor itu tetap dipertahankan ternyata bukan semata soal keandalan mesin.
Di balik bodi yang mulai menua, tersimpan berbagai kenangan yang sulit digantikan oleh kendaraan baru.
Fitroh mengaku Honda Supra tersebut telah menjadi saksi perjalanan asmaranya sejak masa remaja.
“Banyak kenangan manis. Motor itu saksi perjalanan hidup juga,” katanya.
Ia mengenang bagaimana motor tersebut pernah digunakan untuk membonceng mantan kekasih yang hadir dalam berbagai fase kehidupannya, mulai dari masa sekolah, kuliah, hingga dewasa.
“Dari MTS, SMK, kuliah sampai sekarang. Istilahnya perjalanan hidup, perjalanan asmara juga,” ujarnya sambil tertawa.
Bagi Fitroh, motor itu bukan sekadar benda mati. Ia menjadi bagian dari memori tentang perjuangan tumbuh dewasa, merantau, menempuh pendidikan, hingga memasuki dunia kerja.
Di saat banyak orang tergoda mengganti kendaraan setelah beberapa tahun penggunaan, Fitroh justru tidak memiliki rencana untuk melepas Honda Supra Bapak miliknya. Menurut dia, selama motor tersebut masih berfungsi dengan baik, tidak ada alasan untuk beralih ke kendaraan lain.
“Masih bagus, mesinnya awet, masih mendukung pekerjaan sehari-hari. Jadi nggak ada alasan buat ganti motor,” katanya.
Selain faktor teknis, ada nilai sentimental yang membuatnya sulit berpisah dengan kendaraan pemberian orang tua itu.
“Ini pemberian orang tua. Jadi saksi hidup kita berjuang dari zaman sekolah, kuliah, sampai bekerja,” ujarnya.
Di tengah perubahan zaman dan munculnya berbagai model kendaraan baru, Honda Supra Bapak itu tetap bertahan di garasi kecil tempat tinggal Fitroh di Semarang.
Mungkin bagi sebagian orang, motor tersebut hanyalah kendaraan lama. Namun bagi seorang perantau yang telah menempuh perjalanan panjang menuju kedewasaan, Honda Supra itu adalah arsip berjalan yang menyimpan kenangan, perjuangan, dan kisah cinta selama lebih dari satu dekade.
“Motor itu saksi perjalanan hidupku,” kata Fitroh. “Separuh jiwaku ada di situ.”
Penulis : Alif Nazzala Rizqi
Editor : Jaka Nuswantara


