Tekan Sampah Organik, KKN UIN Walisongo Kenalkan Metode Biopori kepada Warga Desa Bermi

Seminar edukasi pengelolaan sampah organik melalui biopori diharapkan mampu menciptakan lingkungan bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Demak, JatengNews.id– Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler ke-86 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang menggelar seminar edukatif bertajuk “Pemanfaatan Sampah Organik melalui Metode Biopori” di Balai Desa Bermi, Kecamatan Mijen, Kabupaten Demak, Minggu (7/6/2026).

Kegiatan yang diikuti oleh warga Desa Bermi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah organik sekaligus memperkenalkan metode Lubang Resapan Biopori (LRB) sebagai solusi ramah lingkungan yang mudah diterapkan di tingkat rumah tangga.

Program tersebut berangkat dari hasil observasi mahasiswa KKN yang menemukan bahwa sebagian besar sampah organik rumah tangga dan limbah pertanian di Desa Bermi masih belum dimanfaatkan secara optimal.

Banyak warga yang memilih membakar atau membuang sisa dapur dan limbah pertanian, padahal material tersebut dapat diolah menjadi kompos yang bermanfaat bagi tanaman.

Dalam pemaparannya, mahasiswa KKN menjelaskan bahwa metode biopori memiliki berbagai manfaat, mulai dari mempercepat proses pengomposan alami, meningkatkan daya serap air ke dalam tanah, hingga membantu mengurangi risiko genangan air dan banjir saat musim hujan.

Selain itu, metode ini dinilai ekonomis karena hanya membutuhkan alat dan bahan yang sederhana.

Peserta seminar diberikan penjelasan mengenai alat dan bahan yang diperlukan untuk membuat biopori, seperti pipa PVC berdiameter 4 inci, linggis atau cangkul, serta sampah organik berupa sisa sayuran, daun kering, dan ampas kopi.

Mahasiswa juga memaparkan langkah-langkah pembuatan lubang biopori dengan kedalaman sekitar 80–100 sentimeter yang kemudian diisi sampah organik secara bertahap.

Warga tampak antusias mengikuti kegiatan tersebut, terutama saat mahasiswa menjelaskan proses dekomposisi yang berlangsung selama empat hingga delapan minggu hingga menghasilkan kompos berwarna gelap yang kaya unsur hara dan siap digunakan sebagai pupuk tanaman.

Untuk memudahkan pemahaman peserta, mahasiswa KKN turut menayangkan video edukasi yang menampilkan tahapan pembuatan biopori secara langsung. Melalui media visual tersebut, warga dapat melihat praktik pembuatan biopori secara lebih jelas dan aplikatif.

Koordinator kegiatan, Farihatul Muthoharoh, menyampaikan bahwa program ini merupakan bentuk kontribusi nyata mahasiswa dalam mendukung pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat.

“Kami berharap ilmu yang kami bagikan hari ini dapat terus dipraktikkan oleh warga Desa Bermi. Biopori bukan sekadar lubang di tanah, tetapi investasi lingkungan jangka panjang yang manfaatnya dapat dirasakan oleh generasi mendatang,” ujarnya.

Salah satu peserta seminar, Linda Istiqomah Ar Rasyid, mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru dari kegiatan tersebut.

“Pelatihan ini sangat membantu warga desa dalam mengatasi permasalahan sampah sehari-hari. Selain mudah diterapkan, manfaatnya juga sangat besar bagi lingkungan,” katanya.

Melalui seminar ini, mahasiswa KKN Reguler ke-86 UIN Walisongo berharap semakin banyak warga yang menerapkan metode biopori di lingkungan masing-masing.

Dengan demikian, Desa Bermi berpotensi menjadi desa percontohan dalam pengelolaan sampah organik berkelanjutan di Kecamatan Mijen serta memperkuat komitmen masyarakat terhadap pelestarian lingkungan.

Penulis: Tim Mahasiswa KKN
Editor: R. Dian Pramesti

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN