JEPARA, Jatengnews.id – Upaya menjaga keandalan pasokan listrik tidak selalu dilakukan di ruang mesin pembangkit.
Di bawah permukaan laut, PLN Unit Induk Pembangkitan (UIK) Tanjung Jati B menuntaskan pekerjaan strategis berupa inspeksi dan perbaikan pipa intake air pendingin Unit 2 sebagai bagian dari program planned outage 2026.
Pekerjaan yang selesai menjelang peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia ini menjadi salah satu langkah penting untuk memastikan Unit 2 PLTU Tanjung Jati B kembali beroperasi secara optimal dan andal setelah masa pemeliharaan.
Pipa intake memiliki fungsi vital sebagai jalur masuk air laut menuju sistem pendingin pembangkit. Air laut tersebut digunakan untuk mendinginkan uap di kondensor sehingga proses pembangkitan listrik dapat berlangsung secara stabil dan efisien. Oleh karena itu, kondisi pipa harus selalu dipastikan tetap prima agar pasokan air pendingin tidak terganggu.
General Manager PLN UIK Tanjung Jati B, Andi Makkasau, menjelaskan bahwa inspeksi pipa intake merupakan salah satu pekerjaan utama dalam rangkaian pemeliharaan Unit 2.
“Pipa intake merupakan komponen penting yang memastikan kebutuhan air pendingin pembangkit tetap terpenuhi. Meski berada di bawah laut dan tidak terlihat, perannya sangat menentukan keandalan operasi Unit 2 saat kembali beroperasi,” ujar Andi.
Tim melakukan pemeriksaan pada beberapa segmen pipa, yakni spool 3 hingga spool 7. Dari hasil inspeksi ditemukan sejumlah kerusakan berupa penipisan material, sobekan, hingga lubang pada beberapa bagian pipa. Selain itu, tim juga menemukan material batu yang terbawa arus laut masuk melalui area pipa yang mengalami kerusakan.
Temuan tersebut kemudian menjadi dasar pelaksanaan pekerjaan perbaikan guna mencegah gangguan terhadap aliran air pendingin menuju sistem pembangkit.
Perbaikan dilakukan dengan memasang sebanyak 52 pelat penguat atau bended plate berukuran sekitar 150 sentimeter x 300 sentimeter. Seluruh proses pemasangan dikerjakan menggunakan metode underwater welding oleh penyelam profesional yang memiliki sertifikasi dan kompetensi khusus.
Menurut Andi, pekerjaan di bawah laut memiliki tingkat kompleksitas yang tinggi sehingga membutuhkan perencanaan matang, peralatan khusus, serta koordinasi yang ketat.
“Pekerjaan bawah laut membutuhkan ketelitian, kesiapan peralatan, dan koordinasi yang sangat baik. Setiap tahapan dilaksanakan berdasarkan hasil inspeksi sehingga pelat penguat dipasang tepat pada titik yang membutuhkan perlindungan,” katanya.
Selama proses pekerjaan, aspek keselamatan menjadi prioritas utama. Setiap penyelam diwajibkan memenuhi persyaratan fit to work, memiliki sertifikat kompetensi, serta menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum memasuki area kerja.
Selain itu, tim menyiapkan sistem komunikasi bawah air, kamera CCTV, perlengkapan penyelaman lengkap, hingga prosedur isolasi sistem untuk memastikan seluruh pekerjaan berlangsung aman.
PLN juga melakukan pemantauan secara berkala terhadap kondisi arus laut, gelombang, dan kecepatan angin. Aktivitas penyelaman akan dihentikan apabila kondisi perairan melebihi batas aman yang telah ditetapkan.
Melalui penyelesaian inspeksi dan perbaikan pipa intake ini, PLN UIK Tanjung Jati B menegaskan komitmennya untuk menjaga keandalan pembangkit sekaligus memastikan pasokan listrik tetap aman, andal, dan berkelanjutan bagi masyarakat.
Penulis : Alif Nazzala Rizqi
Editor : Jaka Nuswantara





