SEMARANG, Jatengnews.id – Upaya mengurangi persoalan sampah sekaligus menciptakan peluang ekonomi terus didorong melalui pemberdayaan masyarakat. Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) 116 Universitas Diponegoro (Undip) mengedukasi pemuda dan warga Kelurahan Pedurungan Tengah, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, mengenai pengelolaan sampah organik berbasis circular economy.
Kegiatan sosial kemasyarakatan tersebut berlangsung Sabtu (25/7/2026) pukul 15.30-17.30 WIB di rumah Ketua RT 07 RW 02, Kelurahan Pedurungan Tengah, Danang Biliyanto, S.E., M.M. Kegiatan diikuti organisasi pemuda Among Anem yang berbasis di Pedurungan Tengah bersama sejumlah warga sekitar.
Program tersebut dilaksanakan Tim KKN-T 116 di bawah bimbingan Prof. Dr. Eng. Agus Setyawan, S.Si., M.Si. dan Dr. Ir. Fahmi Arifan, S.T., M.Eng., M.M., IPM., ASEAN Eng.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa berupaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai persoalan sampah organik sekaligus mengenalkan cara mengolahnya agar memiliki manfaat lingkungan dan nilai ekonomi.
Konsep circular economy menjadi salah satu materi utama yang disampaikan kepada peserta. Konsep tersebut menekankan bagaimana sumber daya dapat dimanfaatkan selama mungkin, sementara limbah ditekan melalui penggunaan kembali, pengolahan, dan pemanfaatan menjadi produk baru.
Ketua RT 07 RW 02, Danang Biliyanto, mengatakan masyarakat sejak awal memiliki ketertarikan untuk mempelajari konsep circular economy, termasuk penerapannya melalui budidaya maggot.
“Circular economy merupakan konsep ekonomi yang bertujuan meminimalkan limbah agar dapat didaur ulang atau digunakan kembali untuk kebutuhan lainnya,” jelasnya.
Menurutnya, penerapan konsep tersebut memiliki keterkaitan erat dengan budidaya maggot. Sebab, maggot membutuhkan makanan yang dapat berasal dari limbah organik rumah tangga, seperti sisa makanan maupun bahan pangan yang sudah tidak terpakai.
“Perkembangbiakan maggot tidak bisa hanya ditinggal, tetapi perlu perawatan, termasuk pemberian makan. Makanannya dapat menggunakan limbah dapur seperti sisa makanan maupun makanan yang sudah membusuk,” ujarnya.
Budidaya Maggot BSF
Untuk memberikan gambaran praktis kepada masyarakat, Tim KKN-T 116 menggandeng Bintari Foundation dalam pemaparan dan demonstrasi budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF).
Anggota Bintari Foundation, Eka Widiyawati, menjelaskan mengenai karakteristik maggot BSF hingga tahapan siklus hidupnya. Demonstrasi dilakukan dengan metode sederhana agar dapat diterapkan masyarakat, baik dalam skala rumah tangga maupun lingkungan RW.
Budidaya maggot BSF dinilai memiliki sejumlah manfaat dalam pengelolaan sampah organik. Selain membantu mengurangi volume sampah, metode ini juga dapat menekan bau tidak sedap dan berkontribusi dalam mengurangi potensi emisi gas rumah kaca.
Di sisi lain, maggot juga memiliki nilai ekonomi. Hasil budidayanya dapat diperjualbelikan maupun dimanfaatkan sebagai alternatif pakan ternak sehingga berpotensi menekan biaya sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.
Tidak berhenti pada maggot, masyarakat juga diperkenalkan dengan pemanfaatan hasil samping budidayanya berupa kasgot. Material yang berasal dari campuran kotoran maggot dan sisa media organik yang telah terurai tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pupuk untuk membantu menyuburkan tanah, menambah unsur hara, serta memperbaiki struktur tanah.
Kasgot juga dinilai cocok digunakan untuk mendukung budidaya Tanaman Obat Keluarga (TOGA).
Dorong Pemanfaatan TOGA
Selain pengelolaan sampah organik, Tim KKN-T 116 Undip turut mendorong warga memaksimalkan potensi tanaman yang sudah tersedia di lingkungan tempat tinggal.
Setiap RT di RW 02 Kelurahan Pedurungan Tengah diketahui telah mengembangkan TOGA dan berbagai tanaman pekarangan. Potensi tersebut kemudian dikenalkan untuk menghasilkan produk yang lebih bernilai dan bermanfaat.
Mahasiswa memperkenalkan sejumlah contoh pengolahan sederhana, seperti pembuatan wedang rempah berbahan jahe, serai, dan kunyit. Tanaman bunga telang juga dapat diolah menjadi cookies yang memiliki kandungan antioksidan.
Melalui rangkaian edukasi tersebut, masyarakat diharapkan tidak hanya memahami persoalan sampah, tetapi juga mampu melihat limbah sebagai sumber daya yang masih memiliki nilai guna.
Konsep circular economy pun diharapkan dapat diterapkan melalui langkah sederhana dari lingkungan rumah tangga, mulai dari memilah dan memanfaatkan sampah organik, mengolahnya melalui budidaya maggot, memanfaatkan kasgot sebagai pupuk, hingga mengembangkan produk berbasis tanaman pekarangan.
Program ini sekaligus menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.
Selain itu, kegiatan tersebut turut mendukung SDG 11 tentang kota dan permukiman berkelanjutan, SDG 13 mengenai penanganan perubahan iklim, serta SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi melalui pemberdayaan masyarakat dan pemanfaatan limbah organik menjadi produk bernilai ekonomi.
Penulis : Tim Mahasiswa KKN
Editor : Alif Nazzala Rizqi





