SEMARANG, Jatengnews.id — Lahan kosong di kawasan Villa Pinus, Kelurahan Pudakpayung, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, kini mulai dimanfaatkan menjadi ruang hijau yang produktif.
Inovasi tersebut diwujudkan Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) 117 Universitas Diponegoro (Undip) melalui program multidisiplin bertajuk Urban Farming Cagar.
Program yang dilaksanakan pada 5 Agustus 2026 ini menjadi upaya mahasiswa untuk mengoptimalkan lahan terbatas melalui konsep pertanian perkotaan yang berkelanjutan, ramah lingkungan, sekaligus mendukung ketahanan pangan masyarakat.
Inisiatif tersebut berangkat dari kondisi lahan kosong di kawasan Villa Pinus yang dinilai belum dimanfaatkan secara optimal. Melihat potensi tersebut, mahasiswa KKN-T 117 Undip mengembangkan kawasan urban farming yang tidak hanya berfungsi sebagai ruang hijau, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat.
Konsep yang diterapkan mengedepankan pemanfaatan lahan sempit dan penggunaan material bekas yang masih memiliki nilai guna. Salah satunya dengan mengolah limbah plastik menjadi media tanam sederhana dan fungsional.
Beragam jenis tanaman ditanam di kawasan tersebut, mulai dari tanaman pangan, tanaman obat keluarga (TOGA), hingga tanaman refugia. Kehadiran tanaman refugia diharapkan dapat membantu menjaga keseimbangan ekosistem karena mampu menarik serangga penyerbuk sekaligus musuh alami hama.
Untuk memaksimalkan lahan yang tersedia, mahasiswa menerapkan sejumlah metode budidaya, seperti pot vertikultur, bedengan dengan pembatas botol plastik bekas, serta pot yang dibuat dari galon bekas.
Pemanfaatan barang bekas tersebut menjadi salah satu bagian penting dari konsep Urban Farming Cagar. Selain mengurangi keberadaan limbah plastik, material tersebut dapat diubah menjadi sarana bercocok tanam yang murah, mudah dibuat, dan memiliki nilai manfaat bagi lingkungan.
Pembangunan kawasan dilakukan secara bertahap. Mahasiswa terlebih dahulu melakukan persiapan dan penataan lahan, kemudian dilanjutkan dengan pembuatan media tanam, penyusunan bedengan, pemasangan instalasi vertikultur, hingga pembuatan sistem irigasi tetes air.
Setelah seluruh media siap, berbagai jenis tanaman mulai ditanam dan ditata sedemikian rupa. Dalam prosesnya, mahasiswa tidak hanya memperhatikan aspek fungsional, tetapi juga estetika agar kawasan tersebut terlihat lebih tertata dan nyaman.
Kawasan urban farming yang dibangun diharapkan tidak berhenti sebagai ruang hijau semata. Area tersebut juga dirancang sebagai media pembelajaran sederhana mengenai pertanian perkotaan, pengelolaan limbah, serta pentingnya pemanfaatan lahan terbatas.
Program tersebut mendapat respons positif dari masyarakat dan pengelola Villa Pinus. Kehadiran urban farming dinilai mampu memberikan wajah baru bagi lahan yang sebelumnya belum termanfaatkan sekaligus memperindah lingkungan sekitar.
Penggunaan botol dan galon bekas sebagai media tanam juga memberikan contoh nyata bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari lingkungan sekitar dengan cara yang sederhana.
Melalui program multidisiplin Urban Farming Cagar, Tim KKN-T 117 Undip berharap kawasan tersebut dapat terus dimanfaatkan dan dirawat oleh masyarakat maupun pengelola Villa Pinus.
Lebih jauh, program ini diharapkan dapat menjadi contoh bahwa keterbatasan lahan bukan menjadi penghalang untuk menciptakan ruang hijau produktif. Dengan inovasi sederhana dan pemanfaatan material yang tersedia, masyarakat dapat mengembangkan kegiatan bercocok tanam sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.
Urban Farming Cagar pun menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa KKN-T Undip dalam menghadirkan solusi sederhana yang aplikatif, berkelanjutan, dan memiliki manfaat langsung bagi lingkungan serta masyarakat.
Penulis : Tim Mahasiswa KKN
Editor : Alif Nazzala Rizqi





