SEMARANG, Jatengnews.id — Enam pondok pesantren di sejumlah wilayah Kota Semarang menjadi sasaran Program Sosialisasi dan Asesmen Keamanan Bangunan yang digelar mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) 121 Universitas Diponegoro (Undip) Tim II.
Program yang berlangsung pada 7 Juli hingga 18 Agustus 2026 tersebut menjadi upaya mahasiswa untuk mendorong terciptanya lingkungan pesantren yang lebih aman, nyaman, dan siap menghadapi kondisi darurat.
Kegiatan dilaksanakan di enam pondok pesantren, yakni Pondok Pesantren Uswatun Hasanah di Mangkang, Pondok Pesantren Hidayatus Syubban di Genuk, Pondok Pesantren Al-Ishlah di Mangkang, Pondok Pesantren Tahfidz Wathonul Qur’an di Pedurungan, Pondok Pesantren Al-Fattah di Sumurboto, serta Pondok Pesantren Sunan Gunung Jati Ba’alawy (SGJB) di Gunungpati.
Program tersebut diinisiasi sebagai respons terhadap pentingnya aspek keselamatan dan kelayakan bangunan di lingkungan pesantren. Peristiwa keruntuhan bangunan bertingkat yang pernah terjadi di salah satu pesantren di Jawa Timur menjadi pengingat bahwa aspek struktur, perencanaan, pelaksanaan konstruksi, pengawasan pembangunan, hingga penerapan keselamatan bangunan perlu mendapatkan perhatian serius.
Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya memberikan edukasi kepada pengurus dan santri, tetapi juga melakukan asesmen terhadap kondisi bangunan serta lingkungan pesantren. Asesmen dilakukan untuk membantu mengidentifikasi potensi risiko sekaligus memberikan rekomendasi pencegahan guna meminimalkan kemungkinan terjadinya kecelakaan maupun kerusakan bangunan.
Ketua KKN-T Kelompok 121, Grant Yoshio Artha, mengatakan program tersebut dirancang agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang oleh pengurus maupun santri.
“Kami melihat potensi yang sangat besar di pondok pesantren yang tersebar di Jawa Tengah, namun terkendala oleh kurangnya pemahaman dan keterampilan dalam mengidentifikasi potensi risiko serta menilai keamanan dan kelayakan bangunan. Karena itu, diperlukan edukasi dan asesmen sederhana untuk meningkatkan kesadaran terhadap keselamatan bangunan,” ujarnya.
Menurutnya, melalui Sosialisasi dan Asesmen Keamanan Bangunan, mahasiswa mendampingi pengurus pesantren untuk mengenali potensi risiko, mengevaluasi kondisi bangunan, serta menentukan langkah pencegahan yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko kerusakan maupun keruntuhan bangunan.
Beragam Pendekatan di Enam Pesantren
Pelaksanaan program di enam pesantren dilakukan dengan pendekatan yang berbeda sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing lokasi.
Di Pondok Pesantren Uswatun Hasanah, Mangkang, Kelompok 1 KKN-T 121 memfokuskan kegiatan pada sosialisasi dan asesmen keamanan bangunan serta peningkatan kesiapsiagaan lingkungan pesantren.
Mahasiswa melakukan asesmen tata ruang dan jalur evakuasi asrama putri, menyusun denah evakuasi, serta memberikan edukasi mengenai keselamatan instalasi listrik. Optimalisasi jalur evakuasi juga dikaji menggunakan pendekatan Teori Graf untuk mendukung perencanaan jalur penyelamatan yang lebih efektif.
Selain itu, mahasiswa mengembangkan papan informasi terpadu dan signage keselamatan sebagai media informasi bagi penghuni pesantren. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu warga pesantren memahami jalur penyelamatan serta tindakan yang perlu dilakukan ketika menghadapi kondisi darurat.
Sementara itu, Kelompok 2 melaksanakan program di Pondok Pesantren Hidayatus Syubban, Genuk. Kegiatan diawali dengan pengukuran dan pemetaan kawasan pesantren, kemudian dilanjutkan dengan asesmen fisik bangunan.
Aspek yang diperiksa meliputi keselamatan terhadap bahaya petir dan sistem kelistrikan, risiko kebakaran, kenyamanan ruang gerak, hingga kelengkapan sarana dan prasarana.
Mahasiswa juga menyusun 3D modeling sebagai rancangan perbaikan desain atap untuk mengatasi masalah tampias air dan kerusakan elemen dinding akibat kurang optimalnya perawatan talang air. Denah jalur evakuasi turut disusun dan dilengkapi signage berupa papan petunjuk arah serta jalur evakuasi di sejumlah titik strategis.
Di Pondok Pesantren Al-Ishlah, Mangkang, Kelompok 3 berfokus pada asesmen jalur evakuasi dan sistem keselamatan bangunan. Mahasiswa melakukan pengukuran standar bangunan, perhitungan berdasarkan indikator keselamatan, serta pemetaan potensi bencana yang dapat terjadi di lingkungan pesantren.
Tak hanya bangunan, kondisi tanah yang menjadi lapisan penopang pondok pesantren juga mendapat perhatian. Mahasiswa melakukan pengujian laboratorium menggunakan sieve analysis dan Atterberg limits untuk mengetahui klasifikasi dan karakteristik tanah.
Hasil asesmen kemudian digunakan sebagai bahan pemetaan dan edukasi mengenai keselamatan bangunan serta mitigasi bencana bagi warga pesantren.
Berbeda dengan lokasi lainnya, Kelompok 4 di Pondok Pesantren Tahfidz Wathonul Qur’an, Pedurungan, menitikberatkan perhatian pada keselamatan ruang dan aksesibilitas.
Mahasiswa mengevaluasi ruang multiuse area yang digunakan untuk berbagai aktivitas santri. Aspek yang diperiksa meliputi kelayakan pencahayaan, sirkulasi udara, kenyamanan, serta keamanan penggunaan ruang ketika aktivitas berlangsung dalam kondisi padat.
Penilaian juga dilengkapi dengan pemetaan kondisi struktural bangunan. Sebagai tindak lanjut, mahasiswa merancang denah aksesibilitas yang mempertimbangkan kemudahan pergerakan penghuni antarlantai dan antar-ruangan, termasuk akses yang dapat digunakan dengan cepat saat kondisi darurat.
Denah tersebut kemudian diintegrasikan dengan jalur evakuasi bencana dan dilengkapi penanda arah di sejumlah titik strategis. Santri juga mendapatkan edukasi mengenai cara membaca peta kawasan rawan banjir dan langkah kesiapsiagaan ketika terjadi bencana.
Seluruh hasil asesmen, denah aksesibilitas, dan dokumentasi jalur evakuasi diserahkan kepada pihak yayasan sebagai bahan pertimbangan dalam pengembangan fasilitas pesantren.
Sementara itu, Kelompok 5 di Pondok Pesantren Al-Fattah, Sumurboto, memusatkan kegiatan pada asesmen bangunan dan sistem kelistrikan.
Program yang dilakukan mencakup pembuatan denah eksisting dan potongan bangunan, pemeriksaan kelayakan komponen serta instalasi kelistrikan, hingga digitalisasi dokumentasi instalasi listrik melalui perancangan Single Line Diagram (SLD) dan denah instalasi listrik.
Pengukuran dilakukan secara langsung pada bangunan pesantren untuk menghasilkan dokumen teknis yang menggambarkan kondisi tata ruang dan struktur bangunan. Dokumen tersebut dapat digunakan sebagai acuan dalam pemeliharaan, pengembangan, maupun renovasi bangunan.
Pada aspek kelistrikan, mahasiswa memeriksa panel listrik, jaringan kabel, dan sejumlah titik instalasi untuk mengidentifikasi potensi bahaya, seperti hubungan arus pendek dan beban listrik yang tidak sesuai.
Hasil pemeriksaan kemudian dituangkan dalam bentuk SLD dan denah instalasi listrik sehingga pihak pesantren memiliki dokumentasi sistem kelistrikan yang lebih jelas dan sistematis.
Adapun Kelompok 6 melaksanakan program di Pondok Pesantren Sunan Gunung Jati Ba’alawy, Gunungpati. Fokus kegiatan diarahkan pada peningkatan keamanan bangunan, kesiapsiagaan bencana, sekaligus pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Mahasiswa membuat peta kawasan pesantren secara menyeluruh untuk memberikan gambaran tata letak bangunan dan fasilitas. Selain itu, disusun pula denah jalur evakuasi dan titik kumpul sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan warga pesantren.
Sosialisasi dan asesmen bangunan juga dilakukan untuk meningkatkan pemahaman penghuni mengenai kondisi fisik bangunan, potensi risiko struktural, serta langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk menjaga keamanan dan kenyamanan lingkungan.
Edukasi mitigasi bencana turut diberikan dengan mengenalkan berbagai potensi bencana di wilayah Gunungpati serta langkah kesiapsiagaan yang perlu dipahami oleh seluruh penghuni pesantren.
Pesantren Apresiasi Kontribusi Mahasiswa
Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatus Syubban, Gus Syamsuddin, menyampaikan apresiasi atas kontribusi mahasiswa KKN-T 121 Undip selama berada di lingkungan pesantren.
“Sejauh yang saya lihat, banyak adik-adik santri yang senang dengan adanya teman-teman KKN. Rasa kekeluargaan yang dibangun dengan santri-santri yang ada di sini dan keakraban sudah terjalin. Ini nanti bisa menjadi motivasi yang dapat dikembangkan dari adik-adik santri sehingga keinginan mereka untuk belajar saat ini sudah mulai ada,” ujarnya.
Dosen Pembimbing Lapangan KKN-T 121 Tim II Undip, Prof. Ir. Jati Utomo Dwi Hatmoko, S.T., M.M., M.Sc., Ph.D., turut mengapresiasi pelaksanaan program tersebut.
“Program ini sejalan dengan Moto Undip, yaitu Undip Bermartabat. Kebermanfaatannya nyata terwujud melalui pengembangan asesmen di pondok-pondok pesantren yang dilakukan mahasiswa, sebagai bentuk konkret kontribusi keilmuan kampus bagi masyarakat,” tuturnya.
Melalui program yang berlangsung selama lebih dari satu bulan tersebut, mahasiswa KKN-T 121 Tim II Undip berharap berbagai dokumen teknis, denah jalur evakuasi, hasil asesmen, hingga rekomendasi perbaikan yang telah diserahkan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh pengelola pesantren.
Program ini diharapkan tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi semata, tetapi menjadi langkah awal untuk membangun budaya keselamatan di lingkungan pesantren. Dengan meningkatnya pemahaman pengurus dan santri mengenai keamanan bangunan serta mitigasi bencana, lingkungan pesantren diharapkan menjadi tempat belajar dan tinggal yang semakin aman, nyaman, dan tanggap terhadap berbagai kondisi darurat.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi wujud kontribusi mahasiswa Undip dalam menerapkan ilmu pengetahuan secara langsung di tengah masyarakat, khususnya dalam mendukung peningkatan kualitas sarana dan keselamatan lingkungan pendidikan berbasis pesantren.
Penulis : Tim Mahasiswa KKN
Editor : Alif Nazzala Rizqi





