SEMARANG, Jatengnews.id – Sebanyak 40 kontingen dari Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Kota Semarang telah dilepas menuju Jakarta oleh Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti.
Pelepasan tersebut dilakukan di Hall Balai Kota Semarang sebagai bagian dari keikutsertaan dalam agenda kongres tahunan tingkat nasional.
Keberangkatan delegasi perempuan ini disebut sebagai langkah strategis untuk memperkuat representasi suara perempuan dari daerah dalam forum nasional. Dalam kesempatan itu, para peserta diharapkan mampu membawa isu-isu krusial yang berkembang di masyarakat, khususnya terkait pemberdayaan perempuan dan kelompok rentan.
Disampaikan oleh Wali Kota Semarang, keberadaan Koalisi Perempuan Indonesia dinilai memiliki peran penting dalam mendorong kemajuan perempuan di berbagai sektor. Sejak dibentuk pada 2004, organisasi tersebut disebut tetap eksis dan konsisten dalam menggerakkan anggotanya melalui berbagai aktivitas di bidang masing-masing.
“Semangat yang ditunjukkan para anggota masih terjaga hingga saat ini, dan hal itu patut dibanggakan,” ujar Agustina, Kamis (9/4/2026).
Lebih lanjut, disampaikan pula bahwa terdapat kesamaan visi antara pemerintah daerah dan organisasi perempuan untuk mendorong perempuan agar semakin maju serta memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan sekitar.
Dalam arahannya, para delegasi diminta untuk mengikuti seluruh ketentuan forum serta berperan aktif dalam menyampaikan aspirasi. Beragam isu disebut akan dibawa, mulai dari kelompok disabilitas, perempuan buruh, perempuan rentan, hingga anak jalanan.
“Setiap perwakilan diharapkan mampu menyuarakan kepentingan kelompok yang diwakilinya,” kata Agustina.
Selain itu, para peserta juga diingatkan untuk menjaga nama baik Kota Semarang selama mengikuti kegiatan di tingkat nasional. Penyesuaian terhadap dinamika forum disebut perlu dilakukan mengingat skala kegiatan yang lebih luas.
Keikutsertaan KPI Kota Semarang dalam agenda tersebut dijelaskan sebagai bagian dari kongres tahunan yang rutin diselenggarakan. Kegiatan ini difungsikan sebagai sarana konsolidasi organisasi, penyampaian laporan, serta penyusunan rekomendasi gerakan perempuan untuk satu tahun ke depan.
“Misi yang dibawa merupakan bagian dari gerakan perempuan Indonesia secara umum, meskipun masing-masing peserta juga membawa isu dari organisasinya,” ungkapnya.
Berbagai organisasi yang tergabung dalam delegasi tersebut mencakup kelompok perempuan dari beragam latar belakang, seperti disabilitas, politik, buruh, hingga komunitas anak jalanan. Keberagaman ini dinilai memperkaya perspektif yang akan disampaikan dalam forum nasional. (03)



