Mahasiswa USM Luncurkan BARCA, Kampanye Ubah Kain Perca Batik Jadi Produk Bernilai

Kampanye ini mengangkat isu pelestarian budaya sekaligus keberlanjutan lingkungan melalui pemanfaatan kain perca batik menjadi berbagai produk bernilai

SEMARANG, Jatengnews.id – Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Semarang menghadirkan BARCA (Batik Perca Berkarya), sebuah kampanye digital yang resmi diluncurkan pada 14 Juni 2026.

Kampanye ini mengangkat isu pelestarian budaya sekaligus keberlanjutan lingkungan melalui pemanfaatan kain perca batik menjadi berbagai produk bernilai.

BARCA membawa pesan bahwa setiap potongan kain batik, sekecil apa pun ukurannya, tetap menyimpan cerita tentang proses membatik, kerja keras para perajin, serta warisan budaya yang tidak seharusnya berakhir sebagai limbah.

Dalam mengembangkan kampanye tersebut, tim BARCA menggandeng Ratimaya, sebuah brand lokal asal Semarang yang bergerak di bidang pelestarian, kurasi, dan pengembangan produk berbasis batik, tenun, serta songket Indonesia.

Kolaborasi tersebut diawali melalui kunjungan dan wawancara bersama Head of Operational Ratimaya. Pertemuan itu menjadi ruang diskusi mengenai pentingnya menjaga nilai budaya batik sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan kain perca yang dihasilkan dari proses produksi.

Menurut Ratimaya, setiap potongan kain perca merupakan bagian dari karya yang masih memiliki nilai budaya, estetika, dan ekonomi. Melalui proses kreatif, kain-kain tersebut diolah kembali menjadi beragam produk tanpa menghilangkan karakter maupun identitas batik Indonesia.

Kesamaan visi itulah yang kemudian menjadi landasan kolaborasi antara BARCA dan Ratimaya dalam mengedukasi masyarakat bahwa batik tetap memiliki nilai dan makna, meski hanya tersisa dalam bentuk kain perca.

Sebagai kampanye berbasis digital, BARCA memanfaatkan akun Instagram @barca.berkarya sebagai media utama untuk menyampaikan edukasi kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Konten yang dipublikasikan tidak hanya mengulas filosofi batik dan proses pembuatannya, tetapi juga memperkenalkan berbagai inovasi pemanfaatan kain perca menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai jual.

Melalui pendekatan visual yang dekat dengan anak muda, BARCA berupaya membangun kesadaran bahwa pelestarian budaya dapat dimulai dari langkah sederhana, mulai dari menghargai proses pembuatan batik, memahami makna di balik setiap motif, hingga mendukung pemanfaatan kembali kain perca sebagai bagian dari gaya hidup berkelanjutan.

Kolaborasi BARCA dan Ratimaya menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus dipisahkan dari kepedulian terhadap lingkungan. Keduanya justru dapat berjalan berdampingan melalui pemanfaatan kembali kain perca batik menjadi berbagai produk baru yang bernilai.

Batik tidak hanya dipandang sebagai produk fesyen, tetapi juga sebagai warisan budaya yang setiap bagiannya layak dihargai. Ketika kain perca dimanfaatkan kembali, bukan hanya limbah tekstil yang berhasil dikurangi, tetapi juga nilai budaya yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Melalui kampanye BARCA, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Semarang membuktikan bahwa generasi muda dapat mengambil peran nyata dalam melestarikan budaya melalui strategi komunikasi digital yang kreatif, inovatif, dan kolaboratif.

Bersama Ratimaya sebagai mitra kampanye, BARCA menghadirkan ruang edukasi yang menghubungkan budaya, kreativitas, dan keberlanjutan lingkungan dalam satu gerakan. Kampanye ini diharapkan mampu mengubah cara pandang masyarakat bahwa setiap potongan kain batik bukan sekadar sisa produksi, melainkan bagian dari warisan budaya Indonesia yang masih memiliki nilai dan layak untuk terus berkarya.

Karena pada akhirnya, setiap potongan perca memiliki cerita, dan setiap karya menjadi cara untuk menjaga warisan budaya Indonesia agar tetap hidup dari generasi ke generasi. (01).

Penulis: Shodiqin
Editor: Jaka Nuswantara

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN