Dies Natalis ke-44 SCU Usung Tema Berjumpa dan Bernyala, Bangun Harapan di Tengah Krisis

SCU ingin menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga mampu menghadirkan solusi dan memberi dampak positif bagi masyarakat.

SEMARANG, Jatengnews.id – Soegijapranata Catholic University (SCU) memilih menghadirkan nuansa yang berbeda dalam peringatan Dies Natalis ke-44. Di tengah berbagai tantangan nasional dan global, kampus ini tidak sekadar menggelar perayaan seremonial, tetapi menjadikannya sebagai ruang refleksi untuk membangun harapan, memperkuat kolaborasi, dan mendorong aksi nyata bagi masyarakat.

Mengusung tema “Berjumpa dan Bernyala”, SCU ingin menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga mampu menghadirkan solusi dan memberi dampak positif bagi masyarakat.

Rektor SCU, Ir. Robertus Setiawan Aji Nugroho, S.T., M.Comp.IT., Ph.D., mengatakan Dies Natalis ke-44 menjadi momentum penting untuk merefleksikan perjalanan kampus selama lebih dari empat dekade.

“Selama 44 tahun kami telah melewati berbagai perubahan dan tantangan, baik dari internal maupun eksternal. Momentum ini menjadi kesempatan untuk melihat kembali apakah kehadiran SCU benar-benar telah memberi dampak bagi masyarakat,” ujarnya dalam konferensi pers Puncak Perayaan Dies Natalis SCU ke-44 kepada wartawan.

Menurut Aji sapaan Rektor SCU, refleksi tersebut lahir dari pertanyaan mendasar mengenai peran perguruan tinggi di tengah masyarakat.

“Apakah selama ini kampus hanya menjadi tempat memproduksi lulusan, atau justru mampu menghadirkan semangat, kepemimpinan, inspirasi, dan harapan melalui setiap perjumpaan dengan mahasiswa, dunia industri, pemerintah, maupun masyarakat. Pertanyaan itulah yang kami refleksikan tahun ini,” tegasnya.

Ia menilai situasi global maupun nasional yang penuh ketidakpastian membuat masyarakat semakin sulit membangun optimisme. Karena itu, SCU ingin menghadirkan ruang dialog yang mampu menumbuhkan harapan.

“Hari-hari ini tidak mudah membangun harapan. Namun kami percaya, melalui perjumpaan selalu ada harapan. Karena itu kami ingin menjaga optimisme dan menghadirkan solusi di tengah berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat,” ujarnya.

Semangat tersebut diwujudkan melalui penguatan kolaborasi dengan berbagai mitra, khususnya masyarakat, yang diintegrasikan dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

“Dalam sejumlah program, kami mewajibkan adanya mitra masyarakat. Kami ingin kehadiran kampus semakin dirasakan manfaatnya, sehingga perguruan tinggi benar-benar menjadi bagian dari solusi,” harap rektor.

Sementara itu, Ketua Dies Natalis ke-44 SCU, Fidelis Aggiornamento Saintio, S.Fil., M.I.Kom., mengatakan konsep Dies Natalis tahun ini memang sengaja dirancang berbeda sebagai respons terhadap situasi Indonesia yang tengah menghadapi berbagai tantangan.

“Kami mendapat pesan dari pimpinan bahwa setiap Dies Natalis harus memiliki karakter yang berbeda. Tahun ini kami memilih tidak menonjolkan kemeriahan, tetapi menghadirkan ruang refleksi, dialog yang bermakna, dan kegiatan yang memberikan dampak nyata,” kata Gio sapaan akrabnya.

Karena itu, rangkaian kegiatan tidak hanya diisi seremoni, tetapi juga misa syukur, bakti sosial bersama Ikatan Alumni SCU, Festival Guru Transformatif, serta forum dialog publik yang menghadirkan narasumber dengan berbagai perspektif.

Meski menghadirkan tokoh-tokoh yang dikenal kritis terhadap pemerintah, Gio menegaskan tujuan kegiatan tersebut bukan untuk membangun narasi pesimistis ataupun sekadar melontarkan kritik.

“Kami tidak ingin mengobral kritik. Yang ingin kami hadirkan adalah ruang untuk berpikir bersama mengenai apa yang bisa kita lakukan sesuai bidang masing-masing. Sebagai insan pendidikan, kami mungkin tidak turun ke jalan, tetapi kami bisa menyalakan semangat, nilai-nilai, dan harapan kepada mahasiswa serta masyarakat,” jelasnya.

Menurutnya, Indonesia saat ini lebih membutuhkan tindakan nyata daripada sekadar narasi besar.

“Indonesia tidak hanya membutuhkan narasi besar. Perubahan justru dimulai dari tindakan-tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten di lingkungan masing-masing. Dari situlah dampak besar akan tumbuh,” tegas Gio

Puncak Dies Natalis ke-44 SCU menjadi bagian dari perjalanan menuju usia ke-45 tahun pada 2027. Robertus menegaskan usia ke-44 menjadi fondasi untuk memperkuat peran universitas dalam menghadapi berbagai tantangan masa depan.

“Tahun depan kami memasuki usia ke-45. Karena itu, usia ke-44 menjadi momentum memperkuat fondasi agar SCU semakin relevan, semakin dekat dengan masyarakat, dan terus menghadirkan harapan melalui pendidikan,” tambahnya.

Melalui tema “Berjumpa dan Bernyala”, SCU berharap setiap perjumpaan yang dibangun kampus mampu melahirkan kolaborasi, inspirasi, dan aksi nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas, terutama di tengah tantangan ekonomi, perubahan iklim, hingga dinamika sosial yang dihadapi Indonesia saat ini. (01).

Penulis: Shodiqin
Editor: Jaka Nuswantara

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN