Semarang, JatengNews.id– Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) MIT ke-22 Posko 56 UIN Walisongo Semarang menggelar edukasi anti-bullying bagi siswa SD Negeri 4 Banyubiru, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, Sabtu (1/8/2026).
Kegiatan tersebut dilakukan untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang perundungan sekaligus menanamkan karakter saling menghargai sejak dini.
Edukasi anti-bullying diikuti oleh siswa kelas IV SDN 4 Banyubiru. Mahasiswa KKN mengemas kegiatan secara interaktif agar materi mengenai perundungan dapat dipahami dengan mudah oleh siswa sekolah dasar.
Kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai berbagai bentuk bullying dan dampaknya terhadap korban. Mahasiswa juga menayangkan video animasi yang menggambarkan situasi perundungan yang dapat terjadi di lingkungan sekolah.
Melalui tayangan tersebut, siswa diajak mengenali perilaku yang termasuk bullying, baik dalam bentuk fisik maupun verbal. Siswa juga diberikan pemahaman bahwa perundungan dapat berdampak pada kondisi emosional, rasa percaya diri, serta semangat belajar korban.
Siswa Praktik Lewat Role Play
Sesi edukasi kemudian dilanjutkan dengan role play. Beberapa siswa diberikan kesempatan memerankan karakter sebagai pelaku, korban, dan teman yang berusaha menghentikan tindakan bullying.
Melalui simulasi tersebut, siswa tidak hanya memahami materi secara teori, tetapi juga belajar melihat perundungan dari sudut pandang korban. Mereka diajak mempraktikkan tindakan yang tepat ketika melihat teman mengalami bullying.
Kegiatan semakin interaktif melalui pembuatan pohon cerita anti-bullying. Setiap siswa menuliskan pengalaman, pesan, atau komitmen untuk mencegah perundungan pada kertas berbentuk daun.
Kertas tersebut kemudian ditempelkan pada gambar pohon yang telah disediakan mahasiswa KKN. Pohon cerita menjadi simbol komitmen bersama para siswa untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman, peduli, dan bebas dari perundungan.
Natasya Ayu, mahasiswi KKN UIN Walisongo sekaligus pemateri kegiatan, mengatakan edukasi anti-bullying penting dilakukan sejak usia sekolah dasar. Menurutnya, pemahaman sejak dini dapat membantu siswa membangun kebiasaan untuk saling menghormati.
“Melalui sosialisasi ini, kami berharap siswa semakin memahami berbagai bentuk bullying dan terbiasa membangun sikap saling menghargai di lingkungan sekolah,” ujarnya.
Guru Dorong Pencegahan Bullying Sejak Dini
Wali kelas IV SDN 4 Banyubiru, Ulfa, menyambut positif kegiatan edukasi yang diberikan mahasiswa KKN. Ia menilai pemahaman mengenai bullying perlu diberikan sejak dini karena sejumlah perilaku yang dianggap sebagai candaan dapat berdampak pada kondisi psikologis teman.
“Edukasi anti-bullying sangat penting diberikan kepada anak-anak sejak dini. Hal-hal yang sering dianggap sepele, seperti mengejek teman, sebenarnya sudah termasuk bentuk bullying. Karena itu, perilaku tersebut perlu dicegah sejak kecil agar tidak terbawa hingga mereka dewasa,” ujarnya.
Ulfa berharap kegiatan tersebut dapat memberikan dampak positif terhadap pembentukan karakter siswa, khususnya dalam membangun sikap saling menghargai dan menyayangi.
“Saya berharap setelah mengikuti kegiatan ini, anak-anak semakin memahami bahwa bullying harus dihentikan, bahkan dari tindakan yang paling sederhana seperti mengejek teman. Semoga mereka dapat tumbuh menjadi pribadi yang saling menghargai, saling menyayangi, dan menghormati siapa pun yang mereka temui, baik di sekolah, di rumah, maupun di lingkungan masyarakat,” tuturnya.
Antusiasme siswa terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Pendekatan melalui video animasi, simulasi, dan aktivitas kreatif membuat siswa terlibat aktif dalam memahami materi anti-bullying.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN MIT ke-22 Posko 56 UIN Walisongo Semarang berharap nilai saling menghormati, peduli, dan berempati dapat tertanam dalam kehidupan siswa.
Edukasi ini diharapkan turut mendorong terciptanya lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan ramah bagi seluruh siswa.
Penulis: Tim Mahasiswa KKN
Editor: R. D. Pramesti





