SEMARANG, Jatengnews.id – Dalam dunia riset, keberhasilan tidak hanya diukur dari banyaknya publikasi ilmiah, tetapi juga dari sejauh mana hasil penelitian mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Prinsip itulah yang tercermin dalam perjalanan Dr. Mohamad Endy Julianto, S.T., M.T., dosen Program Studi Teknologi Rekayasa Kimia Industri (TRKI) Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang Jawa Tengah.
Sepanjang tujuh bulan pertama tahun 2026, Dr. Endy mencatatkan capaian yang membanggakan dengan memperoleh 10 paten granted sekaligus menerbitkan tujuh artikel pada jurnal internasional bereputasi.
Pencapaian tersebut menjadi bukti konsistensinya dalam mengembangkan riset terapan yang tidak berhenti di laboratorium, tetapi mampu menjawab kebutuhan dunia industri dan masyarakat.
Kesuksesan tersebut lahir dari perjalanan panjang yang memadukan pengalaman industri dan dunia akademik. Sebelum mengabdikan diri sebagai dosen, Dr. Endy pernah berkarier di sejumlah perusahaan nasional maupun multinasional, di antaranya PT Indo Acidatama Solo, PT Indesso Aroma, PT South Pacific Viscose Purwakarta, hingga PT Oxo Nusantara Gresik.
Pengalaman tersebut membentuk pandangannya bahwa sebuah riset seharusnya tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga melahirkan teknologi yang dapat diterapkan, dikembangkan, dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Filosofi itu kemudian melahirkan berbagai inovasi, mulai dari teknologi pengolahan minyak sawit menjadi asam lemak, produksi bioavtur berbahan minyak jelantah, bioplastik ramah lingkungan dari limbah kulit jeruk bali, deterjen biodegradable, katalis biodiesel berbasis limbah tulang, hingga teknologi ekstraksi kitosan dan hidrolisis pati. Seluruh inovasi tersebut telah memperoleh pengakuan resmi dalam bentuk paten granted.
Lebih dari sekadar menghasilkan invensi, setiap teknologi yang dikembangkan membawa semangat keberlanjutan melalui pemanfaatan limbah, efisiensi energi, ekonomi hijau, dan optimalisasi sumber daya lokal. Berbagai inovasi tersebut juga membuka peluang hilirisasi produk, memperkuat daya saing industri nasional, sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan.
Di sisi lain, produktivitas riset tersebut turut diperkuat dengan lahirnya tujuh publikasi pada jurnal internasional bereputasi. Bagi Dr. Endy, publikasi dan paten bukanlah dua tujuan yang terpisah. Publikasi memperkaya khazanah ilmu pengetahuan, sedangkan paten memastikan hasil penelitian dapat diterjemahkan menjadi teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat dan dunia industri.
Namun, capaian tersebut bukanlah tujuan akhir. Dr. Endy memiliki visi menjadikan pendidikan vokasi semakin relevan dengan kebutuhan industri melalui inovasi berbasis produk. Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya menguasai teori, tetapi juga harus mampu menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi dan berpeluang dikomersialisasikan. Dengan demikian, proses pembelajaran tidak hanya menghasilkan lulusan yang siap bekerja, tetapi juga melahirkan technopreneur dan inovator.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai inovasi, seperti Voca-Roaster, teknologi sangrai kopi berbasis agitasi sensorik yang lebih hemat energi, serta mechanically dispersed-rotary steamer untuk meningkatkan efisiensi produksi teh hijau. Berbagai inovasi ini menunjukkan bahwa riset tidak berhenti pada publikasi, tetapi terus bergerak menuju implementasi di dunia industri.
Dr. Endy juga menekankan pentingnya menghadirkan pendidikan vokasi yang didukung dosen dengan pengalaman industri.
Menurutnya, pengalaman tersebut memungkinkan proses pembelajaran lebih kontekstual karena mahasiswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga memahami persoalan nyata di lapangan. Pendekatan ini diharapkan mampu membentuk lulusan yang adaptif, inovatif, dan siap bersaing di tingkat global.
Tujuh bulan mungkin merupakan rentang waktu yang singkat. Namun, ketika periode tersebut mampu melahirkan sepuluh paten granted, tujuh publikasi internasional, serta berbagai inovasi yang berpotensi diterapkan di dunia industri, maka capaian itu menjadi bukti bahwa kolaborasi antara pengalaman, ketekunan, dan semangat inovasi mampu menghadirkan manfaat yang lebih luas.
Dari laboratorium menuju industri, dari ruang kuliah menuju masyarakat, kiprah Dr. Mohamad Endy Julianto memperlihatkan bahwa ilmu pengetahuan akan memiliki nilai tertinggi ketika mampu memberikan solusi bagi kehidupan. (01).
Penulis: Shodiqin
Editor: Jaka Nuswantara


