SEMARANG, Jatengnews.id — Suasana berbeda terlihat di Rumpin, Kelurahan Podorejo, Kota Semarang, Minggu (9/8/2026).
Anak-anak yang tergabung dalam Tunas Ngrembaka tidak hanya belajar melalui buku, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung mengenal budaya dari negara lain melalui kegiatan International Cultural & Educational Sharing.
Kegiatan tersebut digelar Tim Pelaksana Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) SGL PGSD Universitas Negeri Semarang (UNNES) sebagai bagian dari program Pojok Literasi Tunas Ngrembaka. Mengusung tema “Literasi Budaya dan Multikultural”, kegiatan ini dirancang untuk memperkenalkan keberagaman budaya sekaligus menumbuhkan sikap toleransi sejak usia dini.
Sebanyak 33 anak mengikuti kegiatan tersebut bersama 13 anggota tim pelaksana, tiga tim ormawa, dan tujuh anggota satuan tugas (satgas).
Menariknya, kegiatan kali ini menghadirkan dua mahasiswa program doktoral asal Pakistan sebagai narasumber. Keduanya yakni Muhammad Salman dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan Muhammad Sharyar dari Universitas Diponegoro (UNDIP).
Kehadiran kedua mahasiswa tersebut membuat proses belajar berlangsung lebih interaktif. Anak-anak diajak mengenal Pakistan melalui cerita mengenai kehidupan sehari-hari, bahasa, kebiasaan masyarakat, hingga berbagai permainan tradisional.
Tidak berhenti pada pemaparan materi, peserta juga berkesempatan mencoba langsung permainan tradisional Pakistan, seperti cricket dan kabaddi. Anak-anak juga diajak mengikuti gerakan tarian khas Pakistan sehingga suasana kegiatan semakin meriah.
Pertukaran budaya kemudian berlangsung dua arah. Anak-anak Podorejo memperkenalkan sejumlah permainan tradisional Indonesia, antara lain lompat tali, bakiak, dan congklak.
Mereka juga mengajarkan lagu daerah “Gundul-Gundul Pacul” kepada Muhammad Salman dan Muhammad Sharyar. Momen tersebut menjadi pengalaman menarik karena peserta tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga berperan sebagai pengenalan budaya Indonesia kepada mahasiswa internasional.
Muhammad Salman mengaku senang dapat berinteraksi secara langsung dengan anak-anak Podorejo.
“I am very happy to share about Pakistani culture with the children here. They are very active and curious, they asked many questions about Pakistan, especially about our traditional games. I hope this kind of activity can strengthen the friendship between Indonesia and Pakistan, especially through the younger generation,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Muhammad Sharyar. Menurutnya, kegiatan tersebut bukan hanya memberikan kesempatan untuk mengenalkan budaya Pakistan, tetapi juga menjadi ruang baginya untuk mempelajari kebudayaan Indonesia.
“This activity is a great experience for me because I also learn a lot about Indonesian culture, especially the traditional games like congklak and bakiak, and the song Gundul-Gundul Pacul that the children taught us. I feel that culture can connect people from different countries very easily, especially when we share it with children,” ungkapnya.
Antusiasme peserta juga terlihat dari keterlibatan mereka selama kegiatan. Salah satunya Afif yang mengaku mendapatkan pengalaman baru setelah mencoba permainan tradisional Pakistan.
“Aku senang banget bisa main sama Kak Salman dan Kak Sharyar. Aku baru tahu ada permainan namanya kabaddi, seru banget! Aku juga ngajarin mereka nyanyi Gundul-Gundul Pacul,” tuturnya.
Kegiatan tersebut turut mendapat dukungan dari Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) UNNES, Farid Ahmadi, S.Kom., M.Kom., Ph.D. Ia hadir bersama mitra kerja sama, Kak M. Ikhlasul Amal, S.Par., M.Tr.Par., pemilik Issul Bakery.
Farid Ahmadi menilai kegiatan pertukaran budaya secara langsung dapat menjadi pengalaman belajar yang penting bagi anak-anak.
“Kegiatan seperti ini sangat baik untuk menanamkan wawasan global kepada tunas ngrembaka sejak dini. Interaksi langsung dengan mahasiswa internasional memberikan pengalaman belajar yang autentik dan tidak bisa digantikan oleh pembelajaran di kelas saja. Saya mengapresiasi Tim PPK Ormawa SGL PGSD UNNES yang konsisten menghadirkan program-program inovatif dan bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Ketua Tim Pelaksana PPK Ormawa SGL PGSD UNNES, Farid Fikri Khoirul Rasyid, mengatakan kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai pengalaman sesaat, tetapi dapat memberikan dampak terhadap pembentukan karakter anak-anak.
“Kami berharap kegiatan literasi budaya dan multikultural ini dapat menjadi bekal bagi tunas ngrembaka untuk tumbuh menjadi generasi yang terbuka, toleran, dan bangga akan keberagaman. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terlaksananya kegiatan ini,” pungkasnya.
Melalui Pojok Literasi Tunas Ngrembaka, PPK Ormawa SGL PGSD UNNES terus berupaya menghadirkan konsep pembelajaran yang lebih luas. Literasi tidak hanya dipahami sebagai kemampuan membaca dan memahami informasi, tetapi juga sebagai proses mengenalkan keberagaman, membangun toleransi, serta mempersiapkan anak-anak agar mampu melihat dunia dengan wawasan yang lebih terbuka.
Kegiatan International Cultural & Educational Sharing menjadi salah satu contoh bahwa pengenalan budaya dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Dari permainan, lagu, tarian, hingga interaksi sederhana, anak-anak Podorejo mendapatkan pengalaman bahwa perbedaan budaya bukanlah penghalang, melainkan jembatan untuk saling mengenal dan menghargai.
Penulis : Alif Nazzala Rizqi
Editor : Jaka Nuswantara





