Semarang, JatengNews.id— Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) MIT UIN Walisongo Semarang Posko 39 mulai melakukan pendampingan digitalisasi usaha tambak lele milik Rumidi di Dusun Muludan RT 04/RW 06, Desa Tlompakan, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Sabtu (1/8/2026).
Pendampingan diawali dengan pendataan kondisi dan kebutuhan usaha sebagai dasar pembuatan banner nama usaha, perancangan logo, serta pendaftaran lokasi tambak ke Google Maps. Langkah tersebut dilakukan untuk membantu usaha tambak lele yang selama ini dikelola secara mandiri agar lebih mudah dikenal dan ditemukan oleh masyarakat.
Rumidi telah mengelola 14 kolam lele seorang diri selama sekitar enam tahun. Berbagai aktivitas dilakukan secara mandiri, mulai dari pemberian pakan, pengurasan air setiap pagi untuk mengurangi amonia dari sisa kotoran ikan, hingga proses penyortiran dan panen.
Dalam pengelolaannya, Rumidi menghadapi sejumlah kendala, salah satunya penyakit ikan ketika terjadi perubahan musim. Ia menyebut kondisi ketika siang hari panas, sedangkan malam hingga pagi terasa dingin sebagai “musim kebajikan”. Perubahan suhu tersebut membuat ikan lebih sensitif dan rentan terserang penyakit.
“Saya pernah mengalami kerugian besar. Saat ikan sudah hampir panen, saya menghabiskan sekitar Rp3 juta untuk pakan, tetapi banyak yang mati akibat penyakit,” ujar Rumidi.
Selain persoalan budidaya, keterbatasan pemasaran juga menjadi tantangan bagi usaha tersebut. Selama ini, penjualan lele masih mengandalkan jaringan pertemanan, pelanggan tetap, dan pengepul yang diperoleh melalui informasi dari mulut ke mulut.
Harga lele yang ditawarkan Rumidi bervariasi berdasarkan ukuran. Lele ukuran sedang dijual sekitar Rp100 per ekor, sedangkan ukuran besar sekitar Rp150 per ekor. Sementara itu, pengepul biasanya membeli lele dengan harga sekitar Rp120 per ekor.
Kondisi tersebut menjadi perhatian mahasiswa KKN karena usaha tambak lele milik Rumidi memiliki potensi untuk dikembangkan melalui pemanfaatan media digital. Salah satu langkah yang direncanakan adalah mendaftarkan lokasi tambak ke Google Maps sehingga calon pelanggan dapat menemukan lokasi usaha secara lebih mudah.
Selain itu, mahasiswa KKN juga akan membantu merancang identitas visual usaha melalui pembuatan logo dan banner nama usaha. Identitas tersebut diharapkan dapat membuat usaha lebih mudah dikenali sekaligus mendukung upaya promosi.
Pendataan yang dilakukan pada tahap awal menjadi dasar bagi mahasiswa untuk menyesuaikan bentuk pendampingan dengan kebutuhan pemilik usaha. Dengan demikian, digitalisasi tidak hanya berfokus pada pembuatan identitas usaha, tetapi juga diarahkan untuk membantu memperluas akses pemasaran.
Melalui pendampingan tersebut, KKN MIT UIN Walisongo Posko 39 berupaya mendorong pelaku usaha desa untuk mulai memanfaatkan teknologi digital dalam mengembangkan usahanya. Langkah sederhana seperti pencantuman lokasi usaha secara daring diharapkan dapat membuka peluang bagi tambak lele Rumidi untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.
Penulis: Mahasiswa KKN MIT UIN Walisongo Posko 39
Editor: R. D. Pramesti





