Semarang, JatengNews.id– Tradisi merti dusun masih lestari di Desa Wonoyoso, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang. Dusun Krajan dan Dusun Dawung sama-sama mempertahankan tradisi tersebut melalui pertunjukan wayang, meski memiliki pola pelaksanaan, waktu, dan sistem pendanaan yang berbeda.
Kegiatan ini turut melibatkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Mandiri Intensif Terprogram (KKN MIT) -22 UIN Walisongo Semarang Posko 18.
Merti dusun di Dusun Krajan berlangsung pada Sabtu (1/8/2026) hingga Minggu (2/8/2026), dengan pertunjukan wayang sebagai bagian dari rangkaian kegiatan. Sementara itu, Dusun Dawung menggelar merti dusun pada Sabtu (8/8/2026) hingga Minggu (9/8/2026) dengan pertunjukan wayang dalam dua sesi, yakni siang dan malam.
Perbedaan pelaksanaan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Wonoyoso memiliki cara masing-masing dalam merawat tradisi. Meski demikian, merti dusun di kedua wilayah memiliki tujuan yang sama, yakni sebagai ungkapan rasa syukur, menjaga kebersamaan warga, serta melestarikan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Merti Dusun Krajan Digelar Dua Tahun Sekali
Sekretaris Panitia Merti Dusun Krajan, Juremi, mengatakan merti dusun di wilayahnya dilaksanakan setiap dua tahun sekali. Tradisi tersebut menjadi bentuk ungkapan syukur masyarakat sekaligus upaya nguri-uri atau melestarikan budaya lokal.
“Tujuannya sama, sebagai ucapan syukur. Di Wonoyoso ini tidak ada merti desa, yang ada justru merti dusun,” ujar Juremi.
Pelaksanaan merti dusun di Krajan didanai melalui iuran masyarakat. Warga dikelompokkan menjadi tiga golongan, yakni donatur, warga yang dianggap mampu, dan warga yang kurang mampu. Masing-masing kelompok memiliki besaran iuran yang berbeda sesuai kondisi ekonomi.
Menurut Juremi, waktu pelaksanaan merti dusun kini tidak lagi terpaku pada hari tertentu yang dahulu dianggap memiliki nilai keramat. Penentuan waktu lebih mempertimbangkan jadwal dalang, hari libur agar warga dapat mengikuti kegiatan, serta kondisi musim.
“Dulu memang ada hari yang dianggap keramat. Sekarang lebih menyesuaikan jadwal dalang, hari libur, dan musim. Kami memilih waktu ketika musim kemarau,” jelasnya.
Bagi masyarakat Krajan, pertunjukan wayang bukan sekadar hiburan. Wayang menjadi bagian dari ungkapan rasa syukur sekaligus sarana mempertahankan budaya lokal agar tetap dikenal dan dijalankan oleh generasi berikutnya.
Dawung Gelar Wayang Siang dan Malam
Sementara itu, Kepala Dusun Dawung, Sujito, mengatakan merti dusun di wilayahnya juga menjadi bagian dari upaya nguri-uri budaya. Kegiatan tersebut sekaligus dimaknai sebagai momentum resik-resik desa dan simbol kesucian.
Berbeda dengan Krajan, Dusun Dawung menggelar pertunjukan wayang dalam dua sesi. Wayang siang berlangsung pukul 13.00–17.00 WIB, kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan wayang malam mulai pukul 20.00 WIB hingga sekitar pukul 03.00 WIB.
Penentuan waktu pelaksanaan mempertimbangkan kenyamanan masyarakat, jadwal dalang, serta musim kemarau. Untuk pendanaan, warga Dawung menerapkan sistem iuran dengan nominal yang sama bagi seluruh warga.
Perbedaan sistem tersebut memperlihatkan bahwa pelestarian tradisi tidak selalu harus dilakukan dengan pola yang sama. Masing-masing dusun dapat menyesuaikan pelaksanaan dengan kondisi dan kebiasaan masyarakat setempat tanpa menghilangkan makna utama dari merti dusun.
Jadi Ruang Kebersamaan Warga
Merti dusun juga menjadi ruang perjumpaan bagi masyarakat. Pertunjukan wayang tidak hanya dihadiri warga setempat, tetapi juga masyarakat dari dusun lain. Sejumlah tokoh turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Kepala Desa Wonoyoso Amir Burhanuddin dan Camat Pringapus Slamet Shodiq, S.H.
Dalam sambutannya di Dusun Dawung, Amir Burhanuddin mengatakan pertunjukan wayang menjadi salah satu tradisi yang akan terus dilestarikan di Desa Wonoyoso sebagai wujud rasa syukur masyarakat.
“Wayangan ini memang selalu dan akan selalu dilestarikan di Desa Wonoyoso sebagai perwujudan syukur,” ujarnya.
Kemeriahan merti dusun juga melibatkan mahasiswa KKN MIT-22 UIN Walisongo Semarang Posko 18. Mahasiswa membantu berbagai kebutuhan selama kegiatan, mulai dari dokumentasi, menjadi pembawa acara, hingga membagikan makanan dan minuman kepada tamu undangan serta kru pertunjukan wayang.
Jadi Pengalaman Budaya bagi Mahasiswa KKN
Bagi Mathly Asira, salah satu mahasiswa KKN UIN Walisongo asal Kamboja, pertunjukan wayang menjadi pengalaman baru untuk mengenal budaya masyarakat Desa Wonoyoso.
Meski sebagian besar cerita dan percakapan dalam pertunjukan menggunakan bahasa Jawa yang belum sepenuhnya ia pahami, Asira tetap berusaha mengikuti jalannya pertunjukan dan memahami pesan yang disampaikan.
Ia mengaku senang dapat menyaksikan secara langsung bagaimana masyarakat Wonoyoso mempertahankan tradisi budaya di tengah kehidupan masyarakat yang mayoritas beragama Islam.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa merti dusun tidak hanya memiliki arti bagi masyarakat yang menjalankannya. Tradisi lokal juga dapat menjadi ruang belajar bagi masyarakat luar yang datang dan berinteraksi dengan warga setempat.
Merti dusun di Wonoyoso pun terus hidup melalui pertunjukan wayang, kebersamaan warga, dan keterlibatan generasi muda. Tradisi tersebut menjadi bagian dari cara masyarakat menjaga rasa syukur sekaligus merawat warisan budaya agar tetap dikenal dari generasi ke generasi.
Penulis: KKN MIT-22 UIN Walisongo Semarang Posko 18
Editor: R. D. Pramesti





