Hadiri Misa Bulanan, KKN UIN Walisongo Saksikan Kerukunan Warga Lintas Agama di Sambeng

Kehadiran mahasiswa KKN MIT-22 Posko 18 menjadi bagian dari upaya membangun silaturahmi sekaligus mengenal praktik toleransi antarumat beragama di Dusun Sambeng.

Semarang, JatengNews.id– Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) MIT-22 UIN Walisongo Semarang Posko 18 menghadiri misa bulanan di Gereja Katolik St. Isidorus Sambeng, Desa Wonoyoso, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang, Sabtu (8/8/2026).

Kehadiran tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa membangun silaturahmi sekaligus mengenal kehidupan masyarakat lintas agama yang telah berlangsung harmonis di Dusun Sambeng.

Misa dipimpin Romo Sigit dari Gereja Girisonta, Karangjati, yang mendapat tugas memimpin misa di Capel Sambeng satu kali dalam sebulan.

Kehadiran mahasiswa KKN UIN Walisongo disambut terbuka oleh Romo Sigit. Ia menilai keberagaman keyakinan merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia yang perlu dijaga melalui sikap saling membantu dan menghargai.

“Orang yang beragama menunjukkan karakter tertentu untuk bisa saling membantu dan tolong-menolong dalam kehidupan berbangsa,” ujar Romo Sigit.

Menurutnya, kehidupan berdampingan dengan masyarakat yang memiliki latar belakang keyakinan berbeda merupakan pengalaman yang menarik. Ia juga mengaku tumbuh dalam lingkungan keluarga besar yang mayoritas Muslim, baik dari pihak ayah maupun ibunya.

Romo Sigit menilai lingkungan masyarakat di Semarang turut mendukung terciptanya kehidupan yang toleran. Hal serupa juga terlihat dalam kehidupan warga Dusun Sambeng yang telah terbiasa hidup berdampingan meskipun memiliki perbedaan agama.

Toleransi Terlihat dalam Kehidupan Sehari-hari

Ketua Lingkungan Katolik Dusun Sambeng, Margareta Nasifa, mengatakan kerukunan antarumat beragama di wilayah tersebut telah terjalin sejak lama. Toleransi tidak hanya terlihat dalam kegiatan bersama, tetapi juga dalam berbagai situasi sosial, termasuk ketika ada warga yang mengalami kedukaan.

“Kalau ada orang Muslim yang meninggal, warga sudah bagi tugas. Yang Katolik ikut membantu masak-masak, bahkan ada yang membantu merangkai bunga untuk pemakaman,” ungkap Margareta.

Menurut Margareta, warga Muslim dan Katolik juga terbiasa bekerja sama dalam kegiatan PKK maupun berbagai perlombaan di lingkungan masyarakat. Saat Idulfitri, warga Katolik turut menyediakan makanan dan bersilaturahmi dengan warga Muslim.

Hubungan bertetangga juga berlangsung secara dekat. Warga terbiasa saling membantu dan berbagi kebutuhan sederhana dalam kehidupan sehari-hari tanpa menjadikan perbedaan agama sebagai penghalang.

Kerukunan tersebut juga dirasakan Tanti, warga yang rumahnya berada tepat di samping gereja. Ia mengatakan kehidupan antara warga Muslim dan Katolik di Dusun Sambeng telah berjalan secara wajar sejak dahulu.

“Di sini kehidupan sudah berjalan normal sejak dulu. Kerukunan memang sudah terjaga sejak lama,” ujar Tanti.

Mahasiswa KKN Belajar dari Kehidupan Lintas Agama

Gereja Katolik St. Isidorus Sambeng menjadi satu-satunya tempat ibadah umat Katolik di Desa Wonoyoso. Keberadaannya telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Dusun Sambeng sejak lama.

Bagi mahasiswa KKN MIT-22 UIN Walisongo Posko 18, kehadiran dalam misa tersebut menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung praktik kehidupan masyarakat yang beragam. Selama menjalankan program KKN, mahasiswa tidak hanya berinteraksi dengan masyarakat Muslim, tetapi juga bersilaturahmi dan membangun hubungan dengan umat Katolik di Sambeng.

Dalam misa, Romo Sigit turut menyampaikan pesan reflektif mengenai kehidupan dan keimanan. Menurutnya, keimanan tidak berarti seseorang akan terbebas dari persoalan. Berbagai “badai” kehidupan tetap dapat datang, tetapi manusia diharapkan tidak hanya berfokus pada persoalan yang dihadapi dan tetap menjadikan Tuhan sebagai sumber kekuatan.

Kehadiran mahasiswa KKN dalam misa bulanan tersebut memperlihatkan bahwa toleransi di Dusun Sambeng tidak sekadar diwujudkan melalui sikap saling menghormati.

Kerukunan juga hadir dalam tindakan nyata, seperti membantu tetangga yang berduka, bersilaturahmi saat hari raya, bekerja sama dalam kegiatan masyarakat, serta saling membantu dalam kehidupan sehari-hari tanpa memandang perbedaan keyakinan.

Penulis Tim Mahasiswa KKN Posko 18
Editor: R. D. Pramesti

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN