Mahasiswa KKNT-IDBU 17 Sulap Limbah Tahu dan Kotoran Ternak Menjadi Pupuk Organik di Poncoruso

Desa Poncoruso memiliki potensi limbah organik yang cukup besar, terutama dari industri tahu rumahan dan aktivitas peternakan

PONCORUSO, Jatengnews.id – Limbah dari aktivitas industri tahu rumahan dan peternakan warga tak lagi sekadar menjadi buangan. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Inovasi Desa Berbasis Usaha (KKNT-IDBU) Kelompok 17 mengajak masyarakat Desa Poncoruso mengolah limbah tersebut menjadi produk yang lebih bermanfaat dan bernilai ekonomi.

Melalui Program Kerja Multidisiplin 2 yang digelar pada 22 Juli 2026, mahasiswa memberikan sosialisasi sekaligus praktik langsung pembuatan pupuk organik berbahan limbah cair tahu dan kotoran ternak. Kegiatan ini menyasar para peternak serta pelaku industri tahu rumahan di Desa Poncoruso.

Program tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa untuk mendorong masyarakat agar mampu mengelola limbah secara mandiri, sekaligus mengurangi potensi pencemaran lingkungan.

Desa Poncoruso memiliki potensi limbah organik yang cukup besar, terutama dari industri tahu rumahan dan aktivitas peternakan. Sebagian limbah memang telah dimanfaatkan sebagai pakan ternak maupun penyubur tanaman. Namun, pemanfaatannya belum dilakukan secara merata sehingga masih terdapat peluang untuk meningkatkan nilai guna limbah tersebut.

Limbah cair tahu dan kotoran ternak diketahui mengandung bahan organik yang dapat dimanfaatkan dalam pengolahan pupuk. Limbah cair tahu, misalnya, mengandung protein, karbohidrat, lemak, serta sejumlah unsur hara seperti nitrogen, fosfat, dan kalium yang dibutuhkan tanaman.

Melalui pengolahan dan fermentasi yang tepat, limbah yang sebelumnya berpotensi mencemari lingkungan dapat diubah menjadi produk yang bermanfaat bagi pertanian maupun peternakan.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKNT-IDBU 17 memperkenalkan empat bentuk pemanfaatan limbah kepada warga, yakni Pupuk Organik Cair (POC) dari limbah cair tahu, Pupuk Organik Padat (POP) dari kotoran sapi, silase berbahan jerami, serta biogas skala rumah tangga dari kotoran ternak.

Untuk pembuatan POC, limbah cair tahu yang telah didiamkan selama dua hingga tiga hari dicampur dengan EM4 dan molase menggunakan perbandingan 50:1:1. Campuran kemudian difermentasi menggunakan sistem galon dan selang tertutup selama 15 hingga 21 hari.

Mahasiswa juga menjelaskan ciri-ciri keberhasilan fermentasi, seperti munculnya aroma manis khas fermentasi, perubahan warna menjadi kecokelatan, terbentuknya lapisan putih tipis di permukaan, serta berhentinya produksi gas.

Sebaliknya, aroma busuk yang menyengat, warna kehitaman dan berlendir, maupun kemunculan jamur berwarna hitam, hijau tua, atau biru menjadi indikator bahwa proses fermentasi tidak berjalan dengan baik.

Sementara itu, POP dibuat menggunakan sekitar 5 kilogram kotoran sapi yang dicampur larutan EM4 dan molase. Bahan tersebut difermentasi selama 14 hingga 21 hari dengan proses pembalikan secara rutin setiap tiga hari.

Pada pengolahan silase, warga diajarkan mencacah jerami padi sepanjang tiga hingga lima sentimeter, kemudian mencampurnya dengan dedak dan molase. Campuran selanjutnya dipadatkan dalam kondisi kedap udara selama minimal 21 hari untuk menghasilkan pakan ternak awetan.

Mahasiswa juga mengenalkan konsep biogas sederhana dengan memanfaatkan drum bekas berkapasitas sekitar 200 liter sebagai digester. Sistem tersebut menggunakan campuran kotoran ternak dan air dan dapat dikembangkan dalam skala rumah tangga dengan kebutuhan modal yang relatif terjangkau.

Agar pengetahuan warga dapat diterapkan secara mandiri setelah kegiatan berakhir, mahasiswa membagikan leaflet panduan bergambar.

Materi tersebut berisi tahapan pembuatan, indikator keberhasilan dan kegagalan fermentasi, hingga informasi mengenai pengemasan dan pelabelan pupuk organik cair apabila produk nantinya dikembangkan untuk dipasarkan.

Kegiatan tersebut mendapat respons positif dari warga Desa Poncoruso. Sejumlah peternak mengaku memperoleh pengetahuan baru mengenai pemanfaatan limbah yang selama ini tersedia di lingkungan sekitar.

Bapak Ramelan dan Bapak Sanipan, peternak sekaligus pelaku usaha di Desa Poncoruso, menyampaikan bahwa materi yang diberikan mahasiswa bermanfaat dan dapat langsung diterapkan.

“Acara malam ini yang diberikan dari mahasiswa KKN memberikan manfaat kepada kami. Mudah-mudahan ketika saya mencoba bisa berhasil, karena saya sudah menumpuk jerami yang rencananya akan saya buat fermentasi,” ujar Ramelan dan Sanipan.

Keduanya berharap pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi dapat dikembangkan oleh masyarakat sehingga memberikan manfaat yang lebih luas bagi peternak dan warga desa.

“Harapan kita semua ke depannya, mudah-mudahan bisa lebih maju dan bisa berkembang jadi lebih baik,” tambahnya.

Melalui program tersebut, mahasiswa KKNT-IDBU 17 berharap masyarakat Desa Poncoruso semakin mandiri dalam mengelola limbah dari aktivitas usaha dan peternakan.

Pengolahan limbah menjadi pupuk organik, pakan fermentasi, maupun biogas tidak hanya berpotensi mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga dapat membantu menekan biaya produksi rumah tangga dan pertanian.

Ke depan, pemanfaatan limbah secara berkelanjutan diharapkan dapat berkembang menjadi peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Dengan demikian, limbah yang sebelumnya dipandang sebagai masalah dapat berubah menjadi sumber daya yang memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus mendukung kesejahteraan warga Desa Poncoruso.





Penulis  : Tim Mahasiswa KKN

Editor     : Alif Nazzala Rizqi

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN