Harga Aspal Tembus Rp2 Juta, Proyek Infrastruktur di Jateng Kena Imbas

Beberapa proyek jalan, jembatan, hingga jalur penyelamat terpaksa dilakukan penyesuaian ulang akibat meningkatnya biaya pembangunan.

SEMARANG, Jatengnews.id  — Lonjakan harga material konstruksi dan bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi mulai berdampak pada sejumlah proyek infrastruktur di Jawa Tengah. Beberapa proyek jalan, jembatan, hingga jalur penyelamat terpaksa dilakukan penyesuaian ulang akibat meningkatnya biaya pembangunan.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Jawa Tengah, Henggar Budi Anggoro, mengatakan kenaikan harga material memengaruhi pelaksanaan proyek di 35 kabupaten/kota. Meski demikian, ia memastikan belum ada proyek yang dibatalkan.

“Karena perlu penyesuaian harga lagi. Namun, beberapa lokasi juga sudah mulai proses lelang,” ujar Henggar kepada awak media, Selasa (19/5/2026).

Ia menyoroti kenaikan harga aspal yang dinilai cukup signifikan sehingga membuat perhitungan awal proyek tidak lagi sesuai dengan kondisi pasar saat ini.

“Harga aspal sekarang mencapai Rp2 jutaan per meter kubik,” katanya.

Menurut Henggar, sejumlah proyek yang terdampak di antaranya pembangunan bandara di Solo, jembatan di Klaten, serta jalur penyelamat di Kalijambe. Ketiga proyek tersebut kini kembali masuk tahap tender setelah dilakukan penyesuaian harga satuan pekerjaan.

“Terkait harga satuan, memang beberapa sudah kami lakukan penyesuaian, termasuk untuk material aspal,” ungkapnya.

Kenaikan harga material juga mulai menekan proyek yang sebelumnya telah dikontrakkan. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bahkan harus meminta persetujuan Sekretaris Daerah (Sekda) agar penyesuaian anggaran dapat dilakukan sehingga proyek tetap berjalan.

“Kami sudah mengirim surat kepada Sekda untuk meminta persetujuan. Kalau tidak, proyek yang sudah dikontrakkan kemungkinan tidak bisa dilaksanakan karena harga aspal naik,” jelas Henggar.

Meski demikian, ia menegaskan kondisi tersebut bukan berarti proyek mengalami penundaan atau mangkrak. Pemerintah, kata dia, hanya melakukan penyesuaian teknis sebelum proses tender dilanjutkan.

“Bukan karena dipending. Di beberapa tempat saat ini memang sedang tahap persiapan tender, sehingga sekalian dilakukan penyesuaian,” tambahnya.

Dampak kenaikan harga material juga mulai dirasakan pelaku usaha bahan bangunan. Pemilik Toko Bangunan Subur Harapan di Boyolali, Rizal, mengatakan hampir seluruh kebutuhan bangunan mengalami kenaikan harga dalam beberapa waktu terakhir.

“Thinner yang sebelumnya Rp19 ribu per liter sekarang menjadi Rp25 ribu. Semen naik dari Rp45 ribu menjadi Rp48 ribu. Plitur instan dari Rp95 ribu menjadi Rp107 ribu. Cat berbagai merek juga naik, termasuk harga paku yang meningkat bertahap,” ujar Rizal melalui pesan singkat.

Kondisi tersebut dikhawatirkan tidak hanya memukul proyek pemerintah, tetapi juga berdampak pada sektor konstruksi swasta dan masyarakat yang sedang membangun rumah. Jika tren kenaikan harga terus berlangsung, biaya pembangunan diperkirakan akan semakin membengkak dalam beberapa bulan mendatang.

Penulis : M Kamal

Editor : Jaka Nuswantara

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN