Dr Hj Uswatun Marhamah Resmi Pimpin SETIA WS Semarang Periode 2026-2030, Dorong Transformasi Jadi Institut

SETIA WS juga akan memperluas jejaring kerja sama nasional maupun internasional serta mempersiapkan transformasi kelembagaan menuju Institut Agama Islam Walisembilan Semarang secara terencana dan berkelanjutan.

SEMARANG, Jatengnews.id – Dr. Hj. Uswatun Marhamah, S.Ag., M.Pd. resmi dilantik sebagai Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Walisembilan (SETIA WS) Semarang periode 2026-2030.

Pelantikan dilakukan oleh Ketua Yayasan Al-Jami’ah Al-Masyhariyah Semarang, Drs. H. Agus Chrismono, M.Pd., di Auditorium SETIA WS, Rabu (1/7/2026).

Uswatun menggantikan Drs. H. Muhlisin, S.E., M.Ag., M.M. yang sebelumnya memimpin SETIA WS. Prosesi pelantikan dihadiri jajaran pengurus Yayasan Al-Jami’ah, pimpinan SETIA WS, dosen, serta tenaga kependidikan.

Dalam sambutannya, Ketua Yayasan Al-Jami’ah Agus Chrismono menegaskan bahwa SETIA WS merupakan lembaga pendidikan tinggi yang dibangun melalui perjuangan panjang para pendiri dan pendahulu.

“SETIA-WS tidak lahir secara tiba-tiba. Kampus ini dibangun dengan perjuangan, pengorbanan, pemikiran, dan cita-cita luhur para pendiri. Karena itu, sudah sepatutnya kita menghormati jasa-jasa mereka,” ujarnya.

Agus mengingatkan pentingnya menjaga dan melanjutkan cita-cita para pendiri agar SETIA WS semakin maju, unggul, serta mampu memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Ia juga menyampaikan bahwa tantangan perguruan tinggi saat ini semakin kompleks, mulai dari perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial, persaingan antarperguruan tinggi, peningkatan mutu akademik, akreditasi, hingga tuntutan tata kelola yang baik.

Menurutnya, membangun institusi tidak dapat dilakukan oleh satu orang, melainkan membutuhkan kerja sama seluruh elemen kampus.

“Tidak ada superman dalam membangun institusi, tetapi yang kita perlukan adalah super team. Semangat kebersamaan, kolegialitas, kekeluargaan, dan sinergi harus menjadi budaya yang terus kita tumbuhkan,” katanya.

Sementara itu, Uswatun Marhamah yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Ketua II SETIA WS menyampaikan rasa terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Ia menegaskan jabatan tersebut merupakan amanah besar yang harus diwujudkan melalui kerja nyata, pengabdian, integritas, dan keteladanan.

“Kepercayaan ini bukan penghargaan kepada pribadi semata, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada sivitas akademika, masyarakat, dan di hadapan Allah SWT,” ungkapnya.

Uswatun mengajak seluruh keluarga besar SETIA WS membangun rasa memiliki terhadap kampus. Menurutnya, setiap individu memiliki potensi dan kontribusi yang penting bagi kemajuan institusi.

Dalam kepemimpinannya, ia menyampaikan sejumlah komitmen, di antaranya memperkuat tata kelola perguruan tinggi yang profesional, transparan, akuntabel, dan berintegritas; meningkatkan mutu pendidikan, penelitian, serta pengabdian masyarakat; memperkuat budaya akademik yang unggul dan inovatif; serta meningkatkan kualitas dosen dan tenaga kependidikan.

Selain itu, SETIA WS juga akan memperluas jejaring kerja sama nasional maupun internasional serta mempersiapkan transformasi kelembagaan menuju Institut Agama Islam Walisembilan Semarang secara terencana dan berkelanjutan.

Sebagai perguruan tinggi Islam, Uswatun menekankan pentingnya penguatan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) dalam kehidupan akademik.

“Nilai tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i’tidal (adil) harus menjadi spirit dalam membangun budaya akademik yang inklusif, berkeadaban, dan menjunjung tinggi ukhuwah,” jelasnya.

Ia berharap SETIA WS mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual, kematangan moral, dan komitmen kebangsaan.

Uswatun juga menyoroti peran pesantren sebagai mitra strategis dalam perkembangan SETIA WS. Menurutnya, sinergi antara perguruan tinggi dan pesantren menjadi modal penting untuk mencetak generasi ulama, intelektual, dan pemimpin masa depan yang tetap berakar pada tradisi keislaman sekaligus adaptif terhadap perkembangan zaman.

Ia pun membuka ruang kritik dan masukan dari seluruh sivitas akademika selama menjalankan amanah kepemimpinan.

“Kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan yang terbuka untuk dikoreksi, mau mendengar, dan terus belajar demi kemajuan bersama,” pungkasnya.

Penulis  : Alif Nazzala Rizqi

Editor    : Jaka Nuswantara

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN