SEMARANG, Jatengnews.id – Bank Jateng terus memperkuat perannya dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah dengan memperluas kolaborasi bersama investor global dan pelaku usaha.
Langkah tersebut diwujudkan melalui forum Business Dinner “Gubernur Jawa Tengah dengan Stakeholders Perekonomian se-Jawa Tengah” yang digelar di Hotel Padma Semarang, Selasa (30/6/2026).
Kegiatan ini menjadi wadah mempertemukan pemerintah daerah, sektor perbankan, pelaku usaha, asosiasi bisnis, hingga investor untuk membangun sinergi dalam meningkatkan investasi di Jawa Tengah.
Sebanyak 105 investor dari berbagai kawasan industri turut hadir, terdiri atas penanam modal asing (PMA) maupun penanam modal dalam negeri (PMDN). Mereka berasal dari sejumlah negara seperti Jepang, Korea Selatan, China, dan India.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyampaikan apresiasi kepada para investor yang tetap mempertahankan komitmen berinvestasi di Jawa Tengah meski dihadapkan pada tantangan ekonomi global. Menurutnya, komunikasi yang baik antara pemerintah dan dunia usaha menjadi faktor penting dalam menjaga iklim investasi tetap kondusif.
Ia juga menekankan bahwa Bank Jateng memiliki posisi strategis sebagai bank milik pemerintah daerah yang mampu memperkuat ekosistem investasi. Dengan semakin banyak transaksi perusahaan yang menggunakan layanan Bank Jateng, perputaran dana diyakini akan lebih besar berada di dalam daerah sehingga memberikan efek berganda bagi perekonomian.
Direktur Utama Bank Jateng, Bambang Widyatmoko, mengatakan forum tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan berbagai layanan Bank Jateng kepada perusahaan-perusahaan besar, termasuk investor mancanegara yang beroperasi di Jawa Tengah.
Menurutnya, masih banyak pelaku usaha yang belum mengetahui bahwa Bank Jateng telah berstatus bank devisa sehingga mampu melayani transaksi internasional menggunakan berbagai mata uang asing, seperti dolar Amerika Serikat, yen Jepang, yuan China, ringgit Malaysia, hingga won Korea Selatan.
“Kami siap menjadi mitra strategis perusahaan dalam memenuhi berbagai kebutuhan layanan keuangan. Setiap perusahaan memiliki karakteristik yang berbeda sehingga kami juga menyiapkan layanan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing,” ujar Bambang.
Ia menambahkan, selama ini sebagian besar transaksi keuangan perusahaan besar di Jawa Tengah masih dikelola oleh bank di luar Bank Pembangunan Daerah. Padahal, jika transaksi tersebut dilakukan melalui Bank Jateng, perputaran dana akan lebih banyak bertahan di Jawa Tengah dan memberi kontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Dari sisi kinerja, Bank Jateng mencatat pertumbuhan yang terus meningkat. Hingga akhir 2025, total aset perseroan mencapai Rp100,06 triliun, naik signifikan dibandingkan Rp30,70 triliun pada 2013. Sementara laba usaha tercatat sebesar Rp1,42 triliun.
Untuk mendukung pelayanan kepada nasabah, Bank Jateng kini memiliki jaringan yang terdiri dari 44 kantor cabang, 150 kantor cabang pembantu, 416 kantor fungsional dan payment point, serta 834 mesin ATM. Penguatan layanan digital juga terus dilakukan melalui mobile banking, internet banking, Electronic Data Capture (EDC), hingga Cash Management System (CMS).
Di sektor pembiayaan UMKM, Bank Jateng juga menjadi salah satu penyalur Kredit Usaha Rakyat (KUR) terbesar di Indonesia. Sejak mulai menyalurkan KUR pada 2013 hingga Mei 2026, total pembiayaan yang telah disalurkan mencapai sekitar Rp29,7 triliun. Adapun kuota penyaluran KUR tahun 2026 sebesar Rp7 triliun yang telah dimanfaatkan oleh lebih dari satu juta pelaku usaha.
Bank Jateng menegaskan akan terus meningkatkan kualitas layanan dan inovasi untuk mendukung peningkatan daya saing investasi sekaligus memperkuat pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah.
Penulis : Alif Nazzala Rizqi
Editor : Jaka Nuswantara


