DEMAK, Jatengnews.id – Dugaan kasus keracunan yang menimpa sejumlah warga di wilayah Pilangwetan, Solowire, dan Prigi, Kabupaten Demak, masih dalam tahap penyelidikan pihak kepolisian. Hingga kini, aparat belum dapat memastikan penyebab pasti insiden tersebut dan masih menunggu hasil uji laboratorium dari Dinas Kesehatan.
Kasi Humas Polres Demak, Iptu Said Nu’man Murod, yang mewakili Kapolres Demak, menyampaikan bahwa pihaknya tengah berupaya mengungkap secara jelas peristiwa tersebut. Namun, kepastian terkait adanya keracunan belum dapat disimpulkan.
“Kami dari pihak kepolisian sebisa mungkin membuat jelas masalah ini. Kami belum bisa memastikan itu keracunan atau tidak karena sampel dan muntahan masih diperiksa di Laboratorium Kesehatan di Semarang,” ujarnya saat di Mapolres Demak, Selasa (21/4/2026).
Ia menjelaskan, polisi telah memeriksa sejumlah saksi, baik dari pihak orang tua korban maupun pengelola program Makan Bergizi Gratis (MBG). Selain itu, penyelidikan juga melibatkan pihak sekolah dan tenaga ahli gizi yang bertugas pada hari kejadian.
“Dari hasil penyelidikan sementara, seluruh prosedur sudah dilakukan sesuai ketentuan. Saat makanan diterima, tidak ditemukan kejanggalan oleh pihak penerima,” tambahnya.
Terkait jumlah korban, pihak kepolisian juga belum dapat memberikan angka pasti karena data yang masih simpang siur. Beberapa korban diketahui menjalani perawatan di rumah sakit, sementara lainnya hanya menjalani rawat jalan.
“Kami masih menunggu hasil laboratorium sebelum ada keterangan resmi dari Dinas Kesehatan. Termasuk memastikan apakah sumbernya dari nasi goreng atau bukan, karena sampelnya masih diuji,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Koordinator MBG Demak, Muzani Ali Shodiqin, mewakili Badan Gizi Nasional (BGN), menyampaikan keprihatinan dan permohonan maaf kepada masyarakat terdampak.
“Kami menyampaikan prihatin dan mohon maaf sebesar-besarnya kepada masyarakat di Pilangwetan, Solowire, dan Prigi, termasuk pihak sekolah, pengasuh pondok pesantren, dan keluarga yang diduga terdampak,” ujarnya.
Ia menambahkan, operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pilangwetan telah dihentikan sementara sejak Senin, 21 April 2026. Pihak BGN juga menyatakan siap bertanggung jawab atas biaya pengobatan seluruh korban.
“BGN siap menanggung biaya rumah sakit dan pengobatan bagi anak-anak, ibu hamil, serta seluruh warga yang diduga menjadi korban,” tegasnya.
Peristiwa ini diharapkan menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan program MBG di Kabupaten Demak. Muzani berharap kejadian serupa tidak terulang kembali di masa mendatang.
Dalam penjelasannya, ia juga menguraikan proses operasional SPPG Pilangwetan, mulai dari penerimaan bahan baku pada sore hari, peracikan hingga tengah malam, proses memasak dini hari, hingga distribusi makanan ke sejumlah wilayah dengan total penerima manfaat mencapai 1.485 orang.
Distribusi dilakukan dengan prioritas wilayah terjauh terlebih dahulu, seperti Solowire, sementara Pilangwetan menjadi titik akhir distribusi. Pada hari Sabtu, pihaknya mengaku tidak menerima laporan adanya kejadian.
Namun pada Minggu pagi, setelah berkoordinasi dengan Puskesmas Kebonagung, langkah cepat langsung diambil dengan mengevakuasi warga yang mengalami gejala ke sejumlah rumah sakit, di antaranya RS PKU, RS Getas, dan RS Sultan Fatah Karangawen.
Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan menunggu hasil resmi dari laboratorium serta keterangan Dinas Kesehatan terkait penyebab pasti insiden tersebut. (03)



