KARANGANYAR, Jatengnews.id – Kekosongan jabatan Direktur Utama Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) atau Tirta Lawu Kabupaten Karanganyar mulai menjadi sorotan publik. Hingga kini, posisi pucuk pimpinan BUMD tersebut belum terisi pejabat definitif, sehingga memicu pertanyaan terkait proses seleksi dan dampaknya terhadap pelayanan masyarakat.
Jabatan direktur utama tersebut kosong sejak pejabat lama purnatugas pada Juni 2025 lalu. Untuk mengisi kekosongan, operasional perusahaan saat ini dipimpin oleh seorang Pelaksana Tugas (Plt).
Padahal, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar telah merampungkan proses seleksi untuk posisi direktur utama dan direktur umum. Nama-nama calon terpilih pun kabarnya sudah diserahkan ke Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Namun, hingga saat ini belum ada kejelasan lebih lanjut.
Kondisi ini memantik kekhawatiran dari berbagai pihak. Kekosongan yang berlarut-larut dinilai berpotensi mengganggu pengambilan kebijakan strategis perusahaan.
Pengamat Kebijakan Publik dari Forum Masyarakat Karanganyar (Formaska), Muhammad Riyadi, menegaskan bahwa jabatan dirut memiliki peran krusial dalam menentukan arah bisnis dan mutu pelayanan PDAM. Menurutnya, mandeknya proses penetapan ini kemungkinan besar terganjal kendala administrasi.
“Kalau memang ada kendala administrasi atau persyaratan dari proses seleksi kemarin, sebaiknya dilakukan seleksi ulang saja daripada menggantung seperti ini. Yang penting segera ada pejabat definitif,” ujar Riyadi kepada tim Jatengnews.id belum lama ini.
Riyadi menilai, keberadaan Plt membatasi ruang gerak perusahaan karena kewenangannya yang terbatas dalam mengambil keputusan krusial.
“Keputusan-keputusan strategis tentu tidak bisa optimal karena hanya dipimpin pejabat sementara. Padahal, PDAM membutuhkan kepemimpinan definitif agar program kerja bisa berjalan lebih profesional dan terarah,” terangnya.
Ia pun menyayangkan proses seleksi yang sudah selesai namun belum berujung pada pelantikan. “Ini sangat disayangkan. Proses seleksi sudah dilakukan, tapi sampai sekarang belum ada pelantikan. Masyarakat tentu bertanya-tanya, sebenarnya menunggu apa lagi?” ungkapnya.
Oleh karena itu, Riyadi mendesak Pemkab Karanganyar untuk segera memberikan kepastian hukum dan kepemimpinan di tubuh BUMD tersebut.
Soroti Nuansa Politis dan Transparansi
Selain lambatnya pengisian jabatan, Riyadi juga mengkritik pengelolaan BUMD yang menurutnya masih kental dengan nuansa politis.
“Kalau unsur politis saya kira pasti ada. Jabatan direktur BUMD memang rawan kepentingan politik,” tukasnya.
Bukan hanya di level pimpinan, ia juga menyentil pola rekrutmen pegawai di tubuh BUMD yang dinilai tidak transparan karena jarang dibuka untuk umum.
“Selama ini tidak pernah ada penerimaan karyawan secara terbuka. Akhirnya muncul kesan hanya berdasarkan like and dislike, sehingga tetap bermuatan politis,” tegas Riyadi.
Di akhir penyataannya, ia berharap Bupati Karanganyar segera melakukan penataan menyeluruh pada jajaran birokrasi dan BUMD agar program pembangunan daerah tidak terhambat.
“Saya mendesak agar penataan jajaran birokrasi dan BUMD segera dilaksanakan supaya program pembangunan bisa berjalan baik. PDAM ini menyangkut pelayanan dasar masyarakat. Kalau terlalu lama kosong, tentu publik bertanya-tanya, ada apa sebenarnya?” tandasnya.
Hingga berita ini diturunkan, situasi tersebut terus memicu spekulasi di tengah masyarakat mengenai dinamika internal di lingkungan Pemkab dan BUMD. Sementara itu, belum ada penjelasan resmi dari pihak terkait mengenai kapan posisi direktur utama PDAM akan diisi secara definitif.
Sementara itu, Asisten II Setda Karanganyar yang juga dewan pengawas PDAM Titis S Jawoto menjelaskan, kekosongan jabatan direktur utama definitif di PDAM belum berdampak terhadap pelayanan masyarakat.
Dikatakannya, Menurutnya, seluruh layanan rutin PDAM masih berjalan normal, mulai dari penanganan kerusakan jaringan, pemantauan kebocoran, hingga respons terhadap keluhan masyarakat.
“Pelayanan masyarakat nggak ada keluhan. Sumber air dijaga, kebocoran dipantau, ada kerusakan di rumah masyarakat juga reaksi cepat,” katanya. (01).
Penulis: Iwan Iswanda
Editor: Shodiqin


