KARANGANYAR, Jatengnews.id – Kementerian Agama (Kemenag) RI memperketat pengawasan terhadap pondok pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan menyusul sejumlah kasus pelanggaran, termasuk dugaan pelecehan terhadap santri yang terjadi di beberapa daerah.
Penegasan tersebut disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI, Amin Suyitno, usai menghadiri peletakan batu pertama pembangunan Pondok Pesantren dan Madrasah Aliyah DQS Al Azhar Insan Cendekia di Desa Pablengan, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Sabtu (13/6/2026).
Menurut Amin, Kemenag menaruh perhatian serius terhadap aspek pengawasan dan perlindungan santri sebagai respons atas sejumlah kasus yang melibatkan oknum pengasuh maupun tenaga pendidik di lembaga pendidikan keagamaan.
“Terkait pengawasan, kami menyadari masih banyak madrasah dan pondok pesantren yang baik dan luar biasa. Namun ketika ada satu kasus, itu menjadi noktah yang tidak bisa diabaikan. Karena itu kami memandang pengawasan sebagai hal yang sangat penting dan akan bersikap tegas terhadap setiap bentuk pelanggaran,” ujarnya.
Amin menegaskan, kasus yang terjadi tidak boleh menghilangkan kepercayaan masyarakat terhadap pesantren secara keseluruhan. Sebaliknya, peristiwa tersebut harus menjadi momentum untuk memperkuat tata kelola lembaga, sistem pengawasan, dan mekanisme perlindungan santri.
“Kasus yang terjadi menjadi momentum untuk melakukan evaluasi dan perbaikan terhadap tata kelola lembaga,” katanya.
Kemenag, lanjut Amin, akan terus memperkuat sistem pengawasan guna menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan kondusif bagi seluruh peserta didik.
“Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga kepercayaan masyarakat sekaligus memastikan proses pendidikan berjalan sesuai dengan nilai-nilai yang dijunjung pesantren,” tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Yayasan Daarul Quran Surakarta menginisiasi pembangunan Pondok Pesantren dan Madrasah Aliyah DQS Al Azhar Insan Cendekia yang mengintegrasikan pendidikan keagamaan berbasis Dirosah Islamiyah dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan sains.
Ketua Yayasan Pesantren DQS, Adib Aji Putra, mengatakan pesantren tersebut dirancang dengan mengadopsi berbagai model pendidikan Islam modern yang telah berkembang di Indonesia.
“Melalui perpaduan kurikulum agama dan sains, pesantren diharapkan menjadi salah satu pusat pendidikan yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman,” jelasnya.
Menurut Adib, konsep pendidikan yang diterapkan bertujuan melahirkan generasi yang memiliki pemahaman agama yang kuat sekaligus mampu bersaing dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Harapannya, lahir generasi yang tidak hanya memiliki pemahaman agama yang baik, tetapi juga mampu berkontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,” ujarnya.
Keberadaan pesantren baru tersebut diharapkan menjadi alternatif pendidikan yang mampu mencetak generasi berakhlak mulia, berwawasan luas, serta memiliki kompetensi akademik yang kuat di bidang sains dan teknologi.
Penulis : Iwan Iswanda
Editor : Jaka N





