Viral Anak SSB Menangis di Turnamen KONI Cup Semarang, Orang Tua Soroti Laga hingga Larut Malam

Sejumlah orang tua peserta dan pengelola Sekolah Sepak Bola (SSB) menilai penyelenggaraan turnamen tersebut tidak profesional

SEMARANG, Jatengnews.id – Beredar video seorang anak berseragam sepak bola menangis usai pertandingan dalam ajang “Road to Kejurnas KONI Cup” yang digelar di Lapangan Banteng Riders, Semarang. Peristiwa itu disebut terjadi dalam turnamen sepak bola usia dini yang berlangsung pada Sabtu (23/5/2026) dan Minggu (24/5/2026).

Sejumlah orang tua peserta dan pengelola Sekolah Sepak Bola (SSB) menilai penyelenggaraan turnamen tersebut tidak profesional. Mereka menyoroti pertandingan yang berlangsung hingga malam hari dengan pencahayaan minim, serta waktu istirahat pemain yang dinilai terlalu singkat.

Salah satu orang tua peserta, Danang (45), mengaku kecewa dengan jadwal pertandingan yang menurutnya terlalu padat untuk anak-anak.

“Ya, kami mengeluhkan karena waktunya sangat berlebihan. Bahkan anak saya kemarin baru selesai perempat final sekitar pukul 19.00 WIB,” kata Danang kepada Jatengnews.id, Senin (25/5/2026).

Ia mengatakan anaknya sudah beberapa kali mengikuti turnamen sepak bola usia dini, namun penyelenggaraan kali ini dinilai paling kacau.

“Anak saya sudah sering ikut turnamen, tapi ini yang paling kacau,” ujarnya.

turnamen “Road to Kejurnas KONI Cup”
Para peserta dipaska bermain dan adu pinalti di malam hari dengan lampu yang minim pencahayaan, Minggu (24/5/2026). (Foto: dok/peserta)

Menurut Danang, pertandingan tetap dipaksakan berlangsung hingga malam hari meski kondisi fisik dan mental anak-anak sudah kelelahan.

“Bahkan pada hari kedua, pertandingan malam hari berlangsung dengan pencahayaan yang sangat minim,” katanya.

Ia menilai kondisi tersebut berdampak pada mental para pemain yang harus bertanding sejak pagi hingga malam.

“Anak-anak tanding dari jam 07.00 pagi sampai malam. Mental mereka jadi turun,” lanjutnya.

Danang berharap pihak penyelenggara lebih memperhatikan kualitas panitia dan konsep pembinaan usia dini.

“Harapannya kalau KONI membuat pertandingan, panitianya benar-benar kredibel dan tidak sembarangan,” tegasnya.

Ia juga menyoroti biaya pendaftaran yang dinilai tidak sebanding dengan kualitas penyelenggaraan.

“Satu tim ditarik Rp900 ribu, tapi pelaksanaannya sangat tidak profesional. Jadinya seperti bisnis saja,” ujar orang tua peserta kelompok usia 12 tahun tersebut.

Dipaksa Bermain hingga Malam

Keluhan serupa disampaikan Yulis Iswahyudi atau Yudi, Owner sekaligus Manajer G’Soccer Semarang. Ia mengaku sudah kecewa dengan penyelenggaraan turnamen serupa pada tahun sebelumnya.

Menurut Yudi, pertandingan pada Sabtu berlangsung molor hingga malam hari. Bahkan semifinal dan final disebut digelar setelah Magrib.

“Final sampai jam 10 malam. Anak-anak sudah tidak layak bermain karena kelelahan,” kata Yudi.

Ia menyebut pertandingan hari Sabtu masih lebih baik karena dialihkan ke Lapangan Mitra yang memiliki penerangan memadai.

Namun pada hari kedua, yang mempertandingkan kategori usia 10 tahun, kondisi dinilai lebih parah. Dalam regulasi awal, pertandingan dijadwalkan selesai pukul 16.50 WIB. Namun karena banyaknya pertandingan dan keterbatasan lapangan, jadwal terus mundur.

“Turnamen itu diikuti 24 tim dengan hanya dua lapangan. Menurut saya minimal harus tiga lapangan supaya selesai tepat waktu,” ujarnya.

Yudi juga menyoroti keputusan panitia yang tetap melanjutkan pertandingan saat kondisi lapangan mulai gelap.

“Babak pertama saja sudah gelap. Banyak yang minta dihentikan, tapi pertandingan tetap dilanjutkan,” katanya.

Menurutnya, saat adu penalti berlangsung, pencahayaan lapangan sangat minim sehingga pemain kesulitan melihat arah gawang.

“Hanya ada satu lampu sorot. Anak-anak silau, sementara gawangnya gelap dan tidak terlihat,” ucapnya.

Ia menyebut beberapa pemain gagal mengeksekusi penalti karena kondisi lapangan yang tidak ideal.

“Anak didik saya dua kali menendang melenceng karena tidak kelihatan,” katanya.

Yudi mengaku sempat meminta pertandingan dihentikan dan kedua tim dinyatakan juara bersama demi keselamatan anak-anak. Namun usulan itu disebut tidak diterima panitia.

“Saya bilang hentikan saja dan cari venue lain besok. Anak-anak sudah capek. Tapi tidak mau,” ujarnya.

Menurut Yudi, video anak-anak menangis menjadi viral karena para pemain merasa dipaksa menjalani adu penalti pada malam hari.

“Anak-anak menangis karena dipaksa penalti malam itu juga,” katanya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak penyelenggara turnamen. (01).

Penulisa: Muhammad Kamal
Editor: Shodiqin

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN