26 C
Semarang
, 27 Februari 2026
spot_img

Sumanto Tekankan Regenerasi Dalang, Pelestarian Wayang Kulit Harus Diwujudkan Lewat Aksi Nyata

Ketua DPRD Jateng Sumanto menyerukan pelestarian wayang kulit melalui langkah konkret dan pembinaan seni.

KARANGANYAR, Jatengnews.id – Ketua DPRD Jateng, Sumanto, menegaskan bahwa pelestarian kesenian wayang kulit tidak boleh berhenti pada seruan semata. Ia menilai diperlukan langkah konkret untuk memastikan regenerasi dalang tetap berjalan, terlebih di tengah gempuran budaya populer yang semakin menarik perhatian generasi muda.

Pernyataan tersebut ia sampaikan saat menghadiri Pagelaran Wayang Kulit bertajuk Gatotkaca Winisuda di Desa Jati, Kecamatan Jaten, Karanganyar. Pada kesempatan itu, panggung dihiasi penampilan Dalang Ki Canggih Tri Atmojo, Dalang Cilik Gibran Maheswara, serta bintang tamu Uncek.

Baca juga : Sumanto Mengajak Masyarakat Teladani Banyak Nilai Positif dalam Wayang Kulit

Sumanto mendorong pemerintah daerah, komunitas budaya, hingga para seniman untuk memperkuat wadah pembinaan melalui sanggar-sanggar seni. Ia menekankan perlunya kelas khusus pedalangan bagi anak-anak dan remaja, yang tidak hanya mengajarkan teknis memainkan wayang, tetapi juga filosofi pewayangan, olah suara, dan tata artistik panggung.

Menurutnya, tampilnya dalang cilik seperti Gibran Maheswara merupakan bentuk regenerasi yang harus terus dirawat. “Saya bangga ada dalang cilik yang diberi panggung. Ini bagian dari menyiapkan penerus dalang senior. Kalau tidak ada regenerasi, sepuluh tahun lagi wayang kulit bisa terancam hilang,” ucapnya.

Seni Tradisional Wayang Kulit dengan Lakon Gatotkaca Winisuda di Desa Jati, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, belum lama ini. (Foto : Dok DPRD JATENG)
Pagelaran Seni Tradisional Wayang Kulit dengan Lakon Gatotkaca Winisuda di Desa Jati, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, belum lama ini. (Foto : Dok DPRD JATENG)

Ia tak menampik bahwa daya tarik kesenian tradisional kini kalah dengan budaya pop modern, seperti drama Korea dan konten global lainnya. Namun ia menilai hal itu justru menjadi tantangan bagi pemerintah dan pelaku seni untuk menghadirkan inovasi tanpa menghilangkan pakem.

“Banyak anak muda sekarang lebih memilih tontonan luar negeri. Padahal dulu kita rela menempuh jarak jauh naik sepeda demi nonton wayang semalam suntuk,” katanya. Ia menambahkan bahwa saat ini minat kuat terhadap wayang kulit lebih banyak ditemukan di kawasan pedesaan, itupun terkadang harus dibantu dengan hadiah doorprize untuk menarik penonton.

Sumanto mendorong berbagai bentuk adaptasi dalam pertunjukan wayang, seperti alur cerita yang lebih relevan dengan perkembangan zaman, durasi pementasan yang lebih ringkas, hingga penayangan melalui platform digital. Langkah-langkah tersebut, menurutnya, terbukti bisa memperluas jangkauan penonton.

“Kalau kita tidak peduli, pelestarian wayang kulit hanya akan jadi slogan. Anak-anak harus diajak mencintai wayang sejak dini,” tegasnya.

Anggota DPRD Karanganyar, Eni Candrawati, turut memberikan apresiasi atas dukungan Sumanto terhadap penyelenggaraan pagelaran tersebut. Ia menyebut kegiatan ini sebagai wujud nyata komitmen menjaga warisan budaya. “Saya berharap masyarakat menikmati pagelaran sampai selesai, apalagi ada doorprize mesin cuci dan sepeda,” ujarnya.

Baca juga : Sumanto, Bapaknya Wayang Karanganyar yang Setia Menjaga Warisan Leluhur

Kepala Desa Jati, Hariyanto, juga berharap adanya sanggar seni dapat segera terwujud di desanya. Ia menyebut Sumanto telah memberikan teladan melalui rutinan nanggap wayang setiap bulan. “Pak Haji Sumanto sudah dua tahun ini nanggap wayang di rumah beliau. Ini bukti kecintaannya pada budaya dan kami sangat berterima kasih,” ungkapnya. (ADV)

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN